Tubuhnya kecil dan sama sekali tidak perkasa. Namun semangat hidupnya dan semangat Kebajikannya sangat luar biasa dan patut kita teladani. Dia ‘hanyalah’ seorang Tukang Becak…
Namanya BAI FANG LI. Hampir sepanjang usianya dihabiskan di atas sadel becaknya… mengayuh dan mengantarkan para pelanggannya dengan imbalan uang atau tarif jasa yang TIDAK PERNAH ia tetapkan.
Meski tak pernah mematok tarif untuk becaknya, banyak para pelanggan yang membayar lebih karena menyukai kepribadian Bai Fang Li yang ramah dengan guratan senyum tak pernah lekang dari wajahnya.
Bai Fang Li tinggal di daerah kumuh, di sebuah gubuk reot yang nyaris rubuh, bertetangga dengan para tukang becak, pedagang asongan dan pemulung. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Hanya ada sebuah tikar tua yang robek-robek di mana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak. Di ruang kecil itu pula ada sebuah kotak kardus berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis bertambal-tambal.
Untuk makan sehari-hari, dia hanya Menggunakan sebuah piring seng yang diambilnya dari tempat sampah, dan sebuah gelas kaleng yang tua. Jangankan televise, listrik pun tak ada di gubuknya. Hanya sebuah lampu minyak tanah yang ia miliki untuk menerangi kegelapan bila malam datang.
Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan tak seorang pun yang tahu apakah ia mempunyai Keluarga atau sanak saudara. Namun Bai Fang Li tak pernah merasa sendirian karena banyak orang yang suka padanya.
Sifatnya sangat murah hati dan suka menolong. Ringan tangan dalam menolong setiap orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan apapun.
Meski penghasilannya seharusnya bisa membuat dia hidup lebih layak, mengganti baju tuanya, membeli makanan yang lebih baik, dan sebagainya, namun dia tidak melakukannya, karena sebagian besar dari penghasilannya dia sumbangkan untuk sebuah Yayasan kecil dan sederhana yang mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu dan miskin di Tianjin.
Mengapa Bai Fang Li rela mengorbankan penghasilannya untuk itu? Dari cerita berikut inilah semua itu bermula:
Suatu hari, hati Bai Fang Li sangat tersentuh menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang sedang menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya.
Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, anak 6 tahun itu menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.
Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.
Hati Bai Fang Li tergerak untuk menghampiri anak lelaki kecil itu, dan membagikan makanan dengannya. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
"Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya...." jawab Wang Ming, anak kecil itu.
"Di manakah orang tuamu?" tanya Bai Fang Li.
"Saya tidak tahu.... ayah ibu saya pemulung.... Tapi sejak sebulan lalu mereka pergi memulung, dan mereka tidak pernah pulang lagi. Mau tidak mau, saya harus bekerja untuk mencari makan untuk dua adik saya yang masih kecil, dan untuk diri saya sendiri..." sahut anak itu.
Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik Wang Ming. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Ming, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Tampak menyedihkan, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.
Bai Fang Li tidak menyalahkan para tetangga mereka jika tidak terlalu perduli dengan keadaan ketiga anak tidak berdaya itu, karena tetangga-tetangga mereka pun termasuk golongan yang terbelit dalam kemiskinan sangat parah; jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus keluarga sendiri pun kesulitan.
Bai Fang Li lalu membawa Wang Ming dan kedua adiknya ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itulah kemudian Bai Fang Li mengatakan bahwa ia bersedia memberikan penghasilannya setiap hari untuk membantu anak-anak miskin di yayasan itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan serta pendidikan yang layak.
Sejak saat itulah Bai Fang Li lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaannya. Dia menghabiskan waktunya mengayuh becak mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam tanpa kenal lelah agar mendapatkan lebih banyak uang. Dari seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuk dan membeli makan siang & makan malamnya yang sederhana, ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.
Bai Fang Li tidak pernah merasa berat melakukan hal itu, justru dia sangat bahagia sekali melakukannya di tengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya.
"Biarlah saya saja yang menderita, yang penting anak-anak itu mendapatkan makanan dan pendidikan yang layak, karena masa depan mereka lebih berharga daripada yang saya miliki sekarang. Saya sangat bahagia melakukan semua ini...," kata Bai Fang Li kepada setiap orang yang menanyakan mengapa ia rela berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.
Hari demi hari… minggu demi minggu… bulan demi bulan… dan tahun demi tahun… tanpa terasa hampir 20 tahun Bai Fang Li mengayuh becak untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu.
Ketika berusia 90 tahun, Bai Fang Li mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua, sekolah di mana anak-anak Yayasan memperoleh pendidikan.
"Maafkan saya,” kata Bai Fang Li, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan."
Kepala Sekolah dan para guru di sekolah itu pun tak kuasa membendung air mata mendengar pengakuan Bai Fang Li.
Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dunia dengan tetap dalam kemiskinan.
Meskipun demikian, tahukah Anda berapa banyak yang telah diberikan oleh Seorang Tukang Becak Bai Fang Li dalam 20 terakhir hidupnya?
Bai Fang Li yang secara social “Tampak miskin” itu telah menyumbangkan uang sebesar RMB 350.000 atau setara dengan sekitar Rp 455.000.000,- kepada Yayasan dan sekolah-sekolah miskin di Tianjin untuk menolong sekitar 300 anak-anak yatim piatu & miskin.
Foto terakhir Bai Fang Li adalah sebuah foto diri yang bertuliskan:
"Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa"
Saat ini masih ada saja sebagian orang yang membanggakan Jumlah Donasi yang mereka berikan hanya karena mereka mampu memberikan lebih banyak daripada orang lainnya.
Ketika kita menyumbangkan 200 atau 300 ribu, kita bangga diri dipandang sebagai dermawan karena orang lain hanya menyumbang 10 atau 20 ribu… padahal di rekening bank kita masih ada puluhan atau bahkan ratusan juta.
Ketika kita mengurbankan seekor sapi, kita bangga diri dipandang sebagai seorang yang rela berkurban lebih besar dibandingkan orang lain yang hanya berkurban dengan 1 atau 2 ekor kambing atau bahkan tidak mampu untuk berkorban seekor ayam sekalipun… padahal di rekening kita masih cukup uang untuk berkurban 10 atau bahkan 100 ekor sapi lagi.
Masih pantaskah kita menyandang gelar seorang Dermawan?
Imam Al-Ghozali menulis dalam salah satu kitabnya:
Kedermawanan pada tingkat yang sejati & tertinggi adalah ketika seseorang rela mengorbankan kebutuhan dirinya untuk memenuhi kebutuhan orang lain, meskipun dirinya sendiri sedang sangat membutuhkan, tanpa melihat apakah orang yang ditolongnya lebih membutuhkan atau tidak dibandingkan dirinya… (terjemahan bebas)
Semoga kita terus diberikan Kekuatan Hati oleh Sang Maha Pengatur Kehidupan untuk senantiasa meningkatkan Kualitas Keikhlasan kita dan mampu meraih kedudukan Dermawan yang Sejati...
(Ary WS)

