Kamis, 29 April 2010

BERANIKAH ANDA MEMBAKAR HABIS KESULITAN YANG MENYELIMUTI HARAPAN2 & CITA2 ANDA??


Apakah Anda akan membiarkan Diri Anda Terbungkus Sampah?

Ada orang yang menganggap kesulitan, kesedihan, dan musibah sebagai hukuman, lalu memilih untuk menerima hukuman itu begitu saja. Hanya sebagian yang nekad mengambil resiko melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Boleh juga! Namun, hanya sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk mengalahkan kesulitan itu dan menggapai Keberhasilan.

Mari kita belajar dari kisah berikut ini.

Dalam sebuah turnamen golf, Nero Sang Profesional membuat sebuah pukulan brilian sehingga bolanya jatuh di dekat lapangan hijau. Namun ketika menyusuri fairway menuju bola itu, Nero melihat bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang dibuang sembarangan. Bagaimana dia bisa memukul bola yang berada di dalam kantong dengan baik? Tentu saja mustahil.

Sesuai peraturan, jika Nero keluarkan bola dari sampah itu, ia terkena pukulan hukuman. Namun jika ia pukul bola bersama kantong kertas, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Bisa dipastikan, hampir tidak pernah ada pemain yang mau memukul bola bersama kantong kertas sampah seperti itu karena resikonya memang jauh lebih fatal terhadap perolehan nilai yang disebabkan melencengnya laju bola.

Hal ini sangat lazim dialami para pemain golf yang profesional sekalipun. Kebanyakan pemain pasti memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas dan menerima hukuman, daripada memukul dengan resiko nilai yang lebih buruk. Barulah setelah itu mereka berupaya keras untuk menebus kurangnya point akibat pukulan hukuman tadi.

Bukan pilihan yang sepenuhnya salah: lebih baik menghadapi resiko lebih kecil dan kemudian berusaha keras untuk memperbaiki situasi, daripada nekad menghadapi resiko besar yang lebih fatal.

Namun, ternyata tidak demikian bagi Nero. Ia memutuskan untuk tidak memilih kedua resiko itu. Anda tahu apa yang dilakukan oleh Nero?

Dia keluarkan sebuah korek api dari kantongnya. Dia bungkukkan badan, dan dia nyalakan api untuk membakar kantong kertas itu hingga terbakar habis, Tidak ada peraturan yang melarang hal itu. Nero tinggal memilih tongkat yang tepat, dan mulai membidik sejenak, mengayunkan tongkat… dan… wuussss…! Bola melejit dan jatuh di dekat lobang.

Bravo !!
Nero terbebas dari hukuman dan tetap bisa memukul bola dengan baik tanpa terganggu sampah kantong kertas. Nero pun akhirnya memenangkan tournament itu.

Ketika cita-cita, tujuan, goal-goal, atau harapan-harapan Anda terasa bagaikan terbungkus sampah, bukan berarti Anda kehilangan kesempatan untuk meraihnya, bukan berarti Anda harus menghentikan langkah untuk mencapainya.

Dalam keseharian, membakar sampah yang membungkus bola golf artinya adalah bahwa kita perlu melakukan sesuatu. Kita perlu sebuah Tindakan. Aksi. Kreatif. Sesekali tangan kita mungkin harus kotor atau bahkan tersengat korek api, tetapi ketika kita Fokus pada Goal, kita Fokus pada Tujuan dan Cita-Cita, dan kita Fokus pada Rasa Bahagia yang tiada tara ketika kita mencapainya, maka kesakitan-kesakitan itupun seketika berubah menjadi Cerita-Cerita Indah yang menghiasi Perjalanan kita menuju Keberhasilan dan Kebahagiaan atas Pencapaian Tujuan kita.

(Ary WS)

BELAJAR JADI ENTREPREUNER YG MULIA DARI SEORANG BOCAH PENJUAL KUE



Sebuah Pelajaran Mulia dari Seorang Pahlawan Kecil

Kabarnya, ini adalah sebuah kisah nyata.

Ada seorang Bocah Kecil yang setiap pulang sekolah selalu membantu ibunya berjualan kue hingga menjelang malam. Seperti biasa, siang itu si Bocah menjajakan kuenya di keramaian kota. Dia melihat seorang pemuda sedang makan di sebuah depot. Si Bocah Penjaja Kue ini pun menghampirinya.

“Om, silahkan dipilih kuenya, Om… kue buatan ibu saya enak lho, Om…” katanya menawarkan kue kepada si Pemuda.

“Maaf ya, Dik. Saya sedang makan.” kata si Pemuda menolak dengan ramah.

Si Bocah tidak menyerah, dia tunggu sesaat sampai si Pemuda menyelesaikan makannya. Dia hampiri lagi si Pemuda itu. Dan lagi-lagi si Pemuda menolak dengan ramah, ”Wah... maaf, Dik, saya sudah kenyang. Porsi makannya tadi banyak sih...”

Si Penjual Kue terus memperhatikan si Pemuda sambil berpikir bagaimana caranya menjual kue kepada si Pemuda. Saat si Pemuda meninggalkan depot, dia hampiri sekali lagi dengan berharap siapa tahu Pemuda itu mau membeli kuenya untuk oleh-oleh.

”Om, mau beli kue saya, Om? Bisa untuk oleh-oleh keluarga di rumah...” katanya lagi.

Si Pemuda memang tidak ingin membeli kue, namun dia merasa kasihan kepada si Bocah, dan mungkin juga risih karena terus-terusan dikejar. Dia keluarkan uang yang cukup banyak dari kantongnya.

”Dik, ini uang buat kamu, dan ini sedekah dari saya.” kata si Pemuda menyerahkan uangnya.

”Tapi, Om, uang ini bisa dapat beberapa kue untuk oleh-oleh,” kata si Bocah.

”Ya, tapi saya lagi tidak pingin kue. Jadi, sedekah saya ini kamu terima saja ya...” jawab si Pemuda sedikit memaksa.

Setelah mengucapkan terima kasih, si Bocah pun pergi. Untuk beberapa saat, si Pemuda sempat memperhatikannya. Si Bocah menghampiri seorang pengemis tua, dan kemudian memberikan uang yang diterimanya dari si Pemuda. Tentu saja, si Pemuda merasa aneh, karena dia perhatikan sepertinya tidak ada hubungan apa-apa antara si Bocah dengan si Pengemis. Dia pun menghampiri Bocah itu lagi.

”Dik, maaf ya... kenapa uang yang saya kasih malah kamu kasihkan ke pengemis? Bukannya itu rejeki buat kamu?”

Si Bocah pun tersenyum, ”Maaf, Om. Saya sudah janji sama Ibu kalau saya mau bantu Ibu berjualan kue ini, bukan untuk jadi pengemis. Jadi, saya akan bangga kalau uang yang saya kasih ke Ibu nanti adalah uang hasil kerja keras saya jualan kue, walaupun mungkin tidak seberapa dibandingkan uang mereka yang mengemis. Ibu pasti juga bangga pada saya, karena Ibu tidak mau anak-anaknya jadi pengemis.”

”Wah! Kamu bener-bener luar biasa! Tapi, sebentar, itu kan berarti kamu menolak rejeki yang Tuhan berikan kepadamu melalui tangan saya?” si Pemuda mencoba berargumentasi.

”Tadi waktu Om kasih ke saya, kan saya tidak menolaknya, Om...” si Bocah pun berkilah.

Si Pemuda pun tertawa, tak lagi bisa membantah. Dia terkagum-kagum pada sikap si Penjual Kue yang, menurut usia, masih sangat muda untuk sebuah semangat pantang menyerah serta mempertahankan Kehormatan diri dan keluarganya dengan Bekerja, bukan mengemis.

Suatu pantangan bagi Keluarga Sederhana ini untuk menjadi pengemis. Si Bocah ingin selalu melihat senyum kebanggaan dari Sang Ibu setiap kali dia pulang ke rumah. Dan senyuman yang tulus penuh kasih itu harus dia balas dengan sebuah Perjuangan yang terbaik, apapun hasilnya.

Hanya karena kekagumannya pada sang Bocah, si Pemuda itu akhirnya memborong semua kue yang dijajakan oleh Pahlawan Kecil itu.

”Lho, katanya tadi Om lagi tidak pingin kue...? Kok sekarang malah dibeli semua?” si Bocah yang lugu itu masih bertanya juga sambil memasukkan kue-kuenya ke dalam kantong plastik.

”Kan tadi kamu sendiri yang bilang kuenya untuk oleh-oleh,” kata si Pemuda, ”nanti saya mau berikan kue-kue ini pada anak-anak di sekitar rumah saya, dan saya akan bagikan semangatmu yang pantang menyerah itu kepada mereka melalui kue-kue ini... Semoga lebih banyak lagi anak-anak yang sepertimu di negeri ini...”

Sang Bocah pun mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan si Pemuda dengan wajah ceria, siap menyambut senyuman penuh kasih dan kebanggaan yang akan diberikan oleh Sang Ibu di rumah.

Si Pemuda tersenyum haru bercampur bangga menyaksikan keceriaan Sang Pahlawan itu.

Dari seorang Bocah Kecil yang polos itu dia belajar:

”Apapun hasilnya, memperjuangkan sebuah Kehormatan dan Kemuliaan pasti memberikan Kebanggaan yang tak terbeli dengan materi seberapapun banyaknya. Dan seberapa pun hasilnya, menjalani sebuah pekerjaan mulia jauh lebih terhormat daripada hanya berpangku tangan mengais belas kasihan orang lain, apalagi kalau mencuri dan merampok yang bukan haknya..."

IMPIAN: Sebuah Pilihan - Menjadi Seperti Apa Yang Anda Inginkan



Di sebuah tempat terpencil di Tenessee, USA, seorang bayi perempuan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Anak itu adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara, lahir premature dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet – sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan.

Namun anak ini sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.

Ibunya yang luar biasa selalu mengatakan pada anaknya yang ternyata sangat pandai tersebut bahwa walaupun kakinya harus menggunakan penyangga, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya.

Ibunya mengatakan bahwa untuk itu yang harus dimilikinya adalah keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora.

Lalu pada usia Sembilan tahun, gadis kecil tersebut memutuskan untuk melepaskan penyangga kakinya dan mulai melangkahkan kakinya yang kata dokter tidak akan bisa normal kembali. Dalam empat tahun dia mulai dapat berjalan secara normal, ini sebuah keajaiban bagi dunia medis.

Dikemudian hari, gadis itu memiliki sebuah impian untuk menjadi pelari wanita terhebat di dunia. Pertanyaannya, mungkinkah dengan kaki yang tidak sempurna seperti itu?

Di usia yang ke tiga belas tahun, dia mulai mengikuti lomba lari. Dia menjadi yang terakhir mencapai finish. Dia selalu mengikuti setiap perlombaan lari di SMA dan dalam setiap perlombaan dia selalu menjadi yang terakhir mencapai finish. Semua orang memintanya untuk menyerah saja! Sampai suatu hari, dia tidak menjadi yang paling akhir mencapai finish dan akhirnya tibalah hari dimana dia memenangkan lomba lari. Sejak sat itu Wilma Rudolph selalu memenangkan perlombaan lari yang dia ikuti.

Wilma melanjutkan sekolahnya di Tenessee State University di mana dia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed Temple melihat semangat yang menggelora pada diri Wilma dan dia juga melihat sebuah bakat natural dalam diri Wilma. Dia melatih Wilma sampai Wilma terpilih untuk masuk dalam Tim Olimpiade Amerika.

Dalam sebuah perlombaan lari Wilma harus bertanding melawan Jutta Heine, sorang pelari asal Jerman yang merupakan pelari terhebat saat itu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Jutta, namun dalam nomor lari gawang 100 meter, Wilma Rudolph memenangkan pertandingan. Dia mengalahkan Jutta lagi pada nomor lari 200 meter. Sekarang Wilma memenangkan 2 medali emas.

Akhirnya di nomor lari 400 meter estafet, Wilma bertemu Jutta lagi. Dua pelari pertama dalam team Wilma melakukan estafet tongkat dengan sempurna, namun saat pelari ketiga menyerahkan tongkat pada Wilma, dia menjatuhkannya karena sangat tegang. Wilma melihat Jutta sudah berlari di lintasan mendahuluinya.

Dalam situasi seperti itu sangatlah tidak mungkin untuk mengejar dan mendahului pelari sekeleas Jutta. Namun akhirnya Wilma melakukannya, dia kembali mengalahkan Jutta Heine. Wilma Rudolph berhasil memenangkan 3 Medali Emas Olimpiade!

Wilma bisa saja memilih untuk menyerah sejak awal-awal kekalahannya, atau bahkan sejak awal dia menyadari kekurangannya, tetapi dia memilih yang berbeda.

Dan kita saksikan, Tuhan mengijinkan kita untuk mengubah kondisi apapun yang telah Dia berikan kepada kita sejak lahir kalau kita memiliki IMPIAN yang sangat KUAT disertai Komitmen dan Konsistensi untuk mewujudkannya.

Ayo Berhenti berpangku tangan pada kondisi yang buruk...
kita Bangkit Sekarang Juga dan MERAIH MIMPI...

Anda BISA... Saya BISA... Kita BISA!!

BUTUHKAH SEBUAH ALASAN UNTUK CINTA?


Weekend in Love

WANITA: "Mas, apa yang membuatmu mencintaiku?"

PRIA: "Aku tidak bisa memberitahu alasannya... tapi percayalah, aku benar-benar mencintaimu."

WANITA: "Tuh kan! Kamu sendiri bahkan tidak tahu alasannya ... bagaimana kamu bisa bilang kamu mencintai aku, Mas?"

PRIA: "Aku benar-benar tidak tahu alasannya, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu."

WANITA: "Aku lagi gak nanya soal bukti, Mas. Aku hanya ingin mendengar dengan kata2mu sendiri apa alasannya kamu mencintaiku. Kekasih temanku saja bisa mengatakan padanya mengapa dia mencintainya tetapi kenapa kamu tidak?"

PRIA: "Ok .. ok! Ehm ... aku mencintaimu karena… wajahmu yang cantik, suaramu lembut dan menentramkanku, karena kamu juga penuh perhatian, karena senyummu yg manis itu, dan karena setiap sentuhanmu."

Si WANITA merasa sangat bahagia & tersanjung dengan jawaban Sang Kekasih.

Sayangnya, beberapa hari kemudian, si WANITA mengalami sebuah kecelakaan, banyak bagian tubuhnya yang rusak. Dia juga mengalami koma dalam kondisi yg kritis. Si PRIA kemudian meletakkan sebuah surat di sisinya, dan berikut adalah isi suratnya:

"Sayangku, karena wajah cantik dan suara manismulah, aku mencintaimu ... Sekarang apakah wajahmu masih cantik dengan luka2mu itu? Apakah suaramu yg lembut itu masih bisa kudengar?
Tidak! Oleh karena itu aku tidak bisa mencintaimu.
Karena perhatian dan kepedulian kamu, aku suka padamu. Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya padaku, maka aku tidak bisa mencintai kamu.
Karena senyumanmu dan karena sentuhanmu, aku mencintaimu. Sekarang bisakah kamu tersenyum? Bisakah kamu bergerak untuk menyentuhku?
Tidak, oleh karena itu aku tidak bisa mencintaimu.
Jika Cinta memang harus butuh alasan, maka tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencintaimu. Apakah cinta butuh alasan? TIDAK! Oleh karena itu, aku masih mencintaimu dan cintaku tidak memerlukan semua alasan itu. Aku tetap mencintaimu…"

Seingkali, Hal-Hal Terindah dalam Kehidupan kita tidak bisa disaksikan dengan mata , tidak bisa tersentuh oleh indera raga, dan tidak pula dibuktikan… hanya dapat dirasakan dalam hati. Dan hati-lah yang bisa menakarnya.

APAKAH KITA MAU TERUS-MENERUS MEMBAWA KENTANG BUSUK KEMANA-MANA?


Seorang guru meminta murid-muridnya membawa satu kantung ke sekolah. Lalu ia meminta setiap anak memasukkan beberapa potong kentang ke dalamnya dengan ketentuan: Satu potong kentang harus mewakili satu orang yang mereka benci, atau satu orang yang belum mereka maafkan, atau satu hal lain yg masih membuat mereka kesal.

Mereka diminta untuk menuliskan nama orang2 itu di setiap potongan kentang yg mewakilinya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, tapi banyak juga yang memiliki kantong yang berat, karena banyaknya potongan kentang yang mereka masukkan ke dalamnya.

Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Bahkan di rumah pun, mereka harus membawanya ketika makan, tidur, mandi, dan aktivitas apapun. Sang Guru berkorrdinasi dengan para orang tua untuk ikut mengawasi hal ini.

Lama-kelamaan, tentu saja, kentang-kentang mulai membusuk, ada yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. Hampir semua anak mengeluh, terutama mereka yang memiliki banyak kentang di dalm kantongnya.

Akhirnya, satu minggu berlalu. Semua anak kembali bertemu dengan Sang Guru.

“Bagaimana Anak-Anak…? Siapa yang masih suka membawa kentang2 itu lebih lama lagi…?” Tanya Sang Guru, yang tentu saja disambut dengan “huuuu…” dan berbagai nada protes dari anak-anak.

“Anak-anakku,” kata Sang Guru, “kalian sudah merasakan, bahwa membawa beban
itu sesungguhnya sangat tidak menyenangkan, apalagi ditambah dengan bau yang makin membusuk.

“Ketika kalian membawa kebencian kepada seseorang atau kalian tidak sudi memaafkan mereka, kalian bawa “dendam” itu sepanjang hidup kalian sebelum kalian memutuskan untuk memaafkannya. Amarah dalam hati kalian itu akan semakin membusuk dan menghantui hidup kalian…”

“Padahal, Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada membawa semua beban itu kemana saja. Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan
dendam yang kita genggam terus menerus.”

“Getir, berat, dan aroma busuk, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.”

”Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian maaf itu sesungguhnya adalah hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah KEBEBASAN.”

”Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedengkian hati yang bias mematikan Kebaikan-Kebaikan Hidup yang sesungguhnya bias kita dapatkan.”

Anak-anakpun beramai-ramai membuang kentang2nya, lalu mereka saling bersalaman, saling memaafkan, saling berpelukan, dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Guru.

Apakah kita siap membuang kentang-kentang busuk dalam hati kita…??
Tentu…

Bukankah… KITA BISA !!!

"3 X 8 = 23" MENYELAMATKAN 3 NYAWA



Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.

Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3 X 8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi."

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan."

Yan Hui: "Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?"

Pembeli kain: "Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"

Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu."

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius.

Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia."

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.

Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.

Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui menjawab, "Baiklah," lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.

Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang?

Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh.

Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"

Confucius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Jawab Confucius :

"Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."

"3 X 8 = 23" telah MENYELAMATKAN 3 NYAWA:
Nyawa Pembeli Kain, karena sudah dibenarkan oleh Confucius; kemudian Nyawa Yan Hui, karena dinasihati untuk tidak berteduh di bawah pohon; dan terakhir Nyawa Adik Ipar Yan Hui, karena Yan Hui ingkar membunuhnya

Selain mendengarkan, kita juga dianjurkan untuk menelaah secara mendalam MENGAPA seseorang mengatakan "demikian" dan "demikian"...

KETEGUHAN SANG JUARA: MA LI DAN ZHAI XIAO WEI

- Kisah Ma Li -

Ma Li adalah seorang balerina profesional, yang sudah membangun karirnya sejak masa kanak-kanak. Ia berasal dari Provinsi Henan, China. Sayangnya, ketika berusia 19 tahun (tahun 1996), ia mengalami kecelakaan mobil. Akibatnya, lengan kanannya harus diamputasi. Kemudian, kekasihnya pergi meninggalkannya. Betapa bingung dan kecewanya Ma Li. Ia sempat mengurung diri di rumahnya selama berbulan-bulan. Namun, dukungan orangtua menguatkannya. Perlahan tapi pasti, ia melanjutkan hidupnya. Ia segera belajar melakukan, mengurus diri dan rumahnya dengan satu lengan. Beberapa bulan kemudian, dia sudah membuka usaha dengan mendirikan satu buah toko buku kecil.

Pada tahun 2001, Ma Li kembali ke dunia tari yang dicintainya. Ini hal yang sulit, karena dengan hanya satu lengan, ia kurang bisa menjaga keseimbangan tubuhnya - khususnya ketika melakukan gerakan berputar. Namun Ma Li tidak putus asa. Ia terus berusaha, hingga akhirnya ia bisa menyabet medali emas pada kompetisi tari khusus untuk orang-orang yang memiliki kekurangan pada fisiknya. Menurut Ma Li, di kompetisi itu, selain mendapatkan prestasi, ia juga mendapatkan dukungan dari orang-orang yang senasib dengannya. Dari situlah, ia mendapatkan dorongan motivasi dan rasa percaya diri yang lebih besar.

Pada 2002, seorang laki-laki bernama Tao Li jatuh cinta pada Ma Li. Tapi, Ma Li meninggalkannya, karena khawatir kejadian masa lalu yang menyakitkan terulang kembali. Tao Li bukan pemuda yang mudah putus asa. Ia mencari Ma Li hingga ke Beijing, tempatnya meniti karir sebagai penari. Ketika bertemu kembali, pasangan ini tidak terpisahkan lagi. Ma Li dan Tao Li sempat jatuh bangkrut saat virus SARS menyerang China (November 2002 hingga Juli 2003). Sebab, pada masa itu, semua gedung teater/seni ditutup. Namun mereka tetap berjuang dan bangkit kembali. Setelah serangan virus SARS mereda, Tao Li mendapat izin resmi untuk menjadi agen Ma Li.

Sambil berusaha mengembangkan diri dan usaha, kedua insan ini bekerja sambilan sebagai pemeran figuran di berbagai lokasi syuting drama. Nah, pada suatu malam bersalju, keduanya pulang larut malam dan harus menghabiskan banyak waktu, untuk menunggu bus yang datang pada pagi hari. Agar tidak terlalu kedinginan, keduanya menari. Pada saat inilah, Tao Li mendapatkan ide untuk menciptakan tarian yang indah dan unik, tarian yang khas Ma Li. Ma Li setuju, dan mulai saat itu mereka mencari seorang penari pria (untuk menjadi pasangan menari Ma li) dan koreografer.

- Kisah Zhai Xiao Wei -

Pada umur 4 tahun, Zhai Xiao Wei sedang asyik bermain. Ia lalu mencoba memanjat sebuah traktor, lalu... terjatuh. Karena cedera berat, kaki kirinya harus diamputasi. Beberapa saat sebelum diamputasi, ayah Xiao Wei kecil bertanya pada putranya, "Apakah kamu takut?". "Tidak", jawab Xiao Wei. Ia kurang memahami arti amputasi. "Kamu akan banyak mengalami tantangan dan kesulitan", kata sang ayah. "Apakah itu tantangan dan kesulitan? Apakah rasanya enak?", tanya Xiao Wei. Ayahnya mulai menangis. "Ya..., rasanya seperti permen kesukaanmu", katanya. "Kamu hanya perlu memakannya satu persatu." Setelah itu, sang ayah berlari keluar ruangan. Berkat dukungan orangtua dan lingkungannya, Xiao Wei tumbuh menjadi anak yang sangat optimis, periang dan bersemangat. Kemudian, ia menjadi seorang atlet. Xiao Wei aktif di cabang olahraga lompat tinggi, lompat jauh, renang, menyelam dan balap sepeda.


- Kisah Pertemuan Ma Li dan Zhai Xiao Wei -

Pertemuan itu terjadi pada bulan September 2005. Saat itu, Xiao Wei (21 tahun) sedang berlatih, agar bisa tampil di kejuaraan balap sepeda nasional. Ma Li melihatnya dan merasa dialah partner menari yang cocok untuknya. Ma Li berlari ke arah Xia Wei dan mengajukan berbagai pertanyaan. "Apakah kamu suka menari?" Itulah pertanyaan pertama Ma Li. Xiao Wei terkejut sekali. Bagaimana mungkin dia, yang hanya punya satu kaki, melakukan kegiatan seperti menari? Selain itu, Xiao Wei mengira, bahwa Ma Li adalah perempuan bertubuh normal. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat saat itu Ma Li mengenakan lengan palsu dan pakaian khusus untuk menutupi cacat tubuhnya. "Siapa nama kamu? Berapa nomor telepon kamu? Tinggal di mana?", begitulah selanjutnya pertanyaan-pertanyaan Ma Li. Xiao Wei diam saja - tidak menjawab sepatah kata pun. Maka, Ma Li memberikan selembar tiket pertunjukan tari kepada pria itu. Tawaran itu diterima.

Dua hari kemudian, Xiao Wei berdiri terpesona di gedung pertunjukan tari. Ia terkesan sekali dengan tarian yang dipersembahkan Ma Li. Akhirnya, ia setuju untuk menari balet bersama. Untuk itu, ia rela pindah ke Beijing untuk berlatih bersama Ma Li. Selanjutnya, mereka latihan tiap hari, dari jam 8 pagi hingga 11 malam. Mulai dari melatih mimik wajah di depan cermin hingga gerakan-gerakan tari. Keduanya harus melalui masa-masa sulit, karena sebelumnya Xiao Wei tidak pernah menari. Sementara Ma Li sendiri, adalah seorang penari yang perfeksionis. Tahukah Anda, untuk mendapatkan gerakan "jatuh" yang tepat, Ma Li sampai rela dijatuhkan lebih dari 1.000 kali. Pada hari pertama berlatih "jatuh", gerakan benar yang pertama baru bisa dilakukan pada pukul 8 malam.

Apa yang terjadi berikutnya, Anda tentu sudah mengetahuinya! Pada April 2007, mereka menyabet medali perak pada lomba tari "4th CCTV National Dance Competition" (saksikan videonya di AW Inspirational Video). Pasangan Ma Li - Zhai Xiao Wei menjadi terkenal. Tarian "Hand in Hand" menjadi inspirasi bagi banyak orang. Apabila mau belajar dan berusaha mengatasi kekurangan yang ada pada diri kita dan dengan tekun mengembangkan potensi diri, kita semua pasti mampu menjadi pemenang yang sesungguhnya!