Senin, 24 Mei 2010

GAGAL ITU BIASA... SIKAPNYA YANG HARUS LUAR BIASA!!


David J.Schwartz mengatakan: Adalah tidak mungkin untuk mencapai keberhasilan yang besar tanpa menjumpai perlawanan, kesukaran dan kemunduran. Akan tetapi adalah mungkin untuk menjalani hidup anda selebihnya tanpa Kekalahan.

Ketika saya mengutip kalimat di atas dan kemudian menulis artikel ini, saya benar-benar sedang berada di ’persimpangan jalan’ di mana saya harus membuat Keputusan yang tepat untuk SISA HIDUP saya, dan sangat besar kemungkinan bahwa Keputusan saya ini juga berpengaruh pada Sisa Hidup setiap anggota keluarga saya. Dalam format yang berbeda, saya yakin bahwa Anda pun sedang dihadapkan setidaknya pada satu masalah yang mengharuskan Anda untuk memutuskan Satu Pilihan yang Terbaik.

Fakta yang seharusnya membuat kita semua ”ngeri” adalah, bila kita tidak memutuskan untuk menentukan Pilihan dalam Hidup kita, maka pasti ada orang atau pihak lain yang akan memutuskannya untuk kita, dan pada saat itu kita sudah tidak bisa lagi menolaknya.

Sebelum Anda dan saya mengambil keputusan, ijinkan saya mengajak Anda ’berekreasi’ menemui 3 Kelompok orang. Sesungguhnya, tujuan saya adalah mengajak Anda dan khususnya diri saya sendiri untuk memilih dan memutuskan pada Kelompok manakah kita ingin dan seharusnya berada. Dengan cara yang sedikit berbeda, kita mulai dari Kelompok Ketiga, lalu Kelompok Kedua, dan barulah Kelompok Pertama.

Inilah kelompok ketiga yang kita kunjungi.
Lihatlah, mereka berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang pendidikannya rendah dan ada juga yang sangat tinggi. Ada yang masih jomblo, ada yang sedang merencanakan pernikahan, ada yang sudah menikah, dan ada juga yang sudah bercerai. Ada yang berasal dari keluarga miskin, menengah, maupun kaya. Juga, mereka berasal dari berbagai daerah, ada yang dari pedalaman, ada yang dari desa, dan ada yang dari kota.

Namun, semua orang di kelompok ketiga ini sesungguhnya mempunyai satu kesamaan. Mari kita dengarkan hal-hal seperti apa yang mereka katakan tentang kondisi hidupnya:
”Perusahaan ini penyebab kesialan saya. Seharusnya saya bekerja pada perusahaan yang lebih bagus daripada yang sekarang.”
”Saya adalah korban dari perekonomian yang buruk, bisnis saya hancur dan saya tidak menemukan jalan lagi untuk menyelamatkannya, terpaksa inilah yang saya lakukan sebisanya.”
”Seandainya orang-orang itu tidak menipu saya, pastilah saya tidak seperti ini.”
”Kalau saja dia tidak menyakiti saya, pasti saya lebih bahagia daripada sekarang. Gara-gara dia, hancurlah hidup saya. Dia bertanggung-jawab atas semua ini.”
”Atasan saya begitu bodoh, bagaimana saya bisa memperbaiki karir saya?”

...dan berjuta-juta ungkapan lain, yang pada intinya adalah sama, yaitu:
1. mereka merasa kalah, tapi tidak mau mengakuinya, karena itu
2. mereka selalu menemukan orang atau pihak lain yang –menurut mereka- menjadi penyebab kekalahan yang mereka alami, dan
3. mereka memilih untuk tetap berada pada kondisi yang ’kalah’,

Tapi mereka bersemangat sekali...! O ya... tidak diragukan, mereka sangat bersemangat...! Bersemangat untuk menceritakan kepada orang lain tentang siapa-siapa atau apa-apa saja yang menghancurkan mereka. Pendeknya, cerita paling seru di kelompok ketiga adalah cerita mengenai kekalahan mereka.

Hmm... kedengarannya sangat mengerikan sekali...

Baiklah, mari kita berjalan lagi menuju Kelompok Kedua. Coba kita lihat, ternyata latar belakang kelompok kedua ini juga beraneka ragam seperti pada kelompok sebelumnya. Ayo kita dengarkan bagaimana mereka bercerita tentang hidupnya:
”Perusahaan ini lumayan bagus, tapi kemampuan saya sudah maksimal, saya jalani saja.”
”Saya tahu ada banyak peluang di kondisi ekonomi seperti ini, tapi saya tidak berani mengambil resiko seperti si A atau si B. Walaupun berat, saya tetap seperti ini saja.”
”Saya memang bodoh hingga mereka menipu saya, ini salah saya, karena itu saya lebih baik tidak mencoba hal-hal semacam itu lagi.”
”Dia memang menyakiti saya, namun biarlah saya sendiri yang menanggungnya, saya berusaha bahagia meskipun sendiri.”
”Bukan salah atasan saya, tapi saya memang sudah tidak mungkin lagi memperbaiki karir saya.”

Perbedaannya dengan kelompok sebelumnya adalah, orang-orang di Kelompok Kedua ini menyikapi kekalahan dengan cara yang lebih terhormat dan bisa diterima lebih baik oleh sebagian besar masyarakat, yaitu:
1. mereka juga merasa kalah, namun tidak secara total kekalahan itu menguasai dirinya
2. mereka menerima kekalahan itu sebagai ulahnya sendiri, sehingga secara terhormat mereka pun tidak serta-merta menuding pihak lain sebagai penyebab kekalahan yang mereka alami, dan
3. mereka mencoba mencari tempat yang menurut mereka aman... tidak lebih!

Sepertinya kondisi-kondisi yang memang aman-aman saja... meskipun sesungguhnya bukanlah kondisi-kondisi yang mereka inginkan. Bukan begitu?

Nah... mari kita mengakhiri ’tour’ kita ini di Kelompok Pertama, yang ternyata tidak banyak orangnya. Sangat sedikit. Namun, begitu kita datang, mereka menyambut kita dengan senyuman, mereka menyambut kita dengan tatap mata berbinar dan jabat tangan yang erat. Sebelum mereka mengatakan sesuatu tentang diri mereka, kita bisa tahu bahwa mereka sedang berbahagia, mereka sedang menikmati kehidupannya, mereka benar-benar ’hidup’ dalam kehidupannya.

Padahal... woow... ternyata latar belakang mereka juga sama saja dengan dua kelompok sebelumnya, dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi. Mari kita dengarkan bagaimana sebenarnya cerita-cerita mereka tentang hidupnya:
”Perusahaan ini sangat bagus, saya bangga bekerja di sini. Namun karena visinya tidak sejalan dengan visi pribadi saya, maka saya putuskan untuk berganti karir. Saya berani dan saya bisa.”
”Saya tahu ada banyak peluang di kondisi ekonomi seperti ini, karena itulah saya harus memanfaatkannya agar bisa sukses seperti si A atau si B. Walaupun berat, saya akan hadapi resikonya. Kalau mereka bisa, saya pasti juga bisa.”
”Orang bilang mereka menipu saya, tapi sesungguhnya yang terjadi adalah Tuhan mengirim mereka untuk memberi saya pelajaran yang sangat berharga agar bisa meraih Keberhasilan lebih besar. Saya bisa.”
”Dia memang menyakiti saya, dan mungkin sekali itu adalah salah saya karena tidak bisa membuatnya bahagia. Saya harus memperbaiki kesalahan saya dalam hubungan. Dan Kebahagiaan saya adalah saya sendiri yang menentukannya.”
”Oo tidak... sama sekali bukan salah atasan saya, saya sendiri yang harus meningkatkan kompetensi dan saya sendiri yang akan menentukan karir saya. Saya akan lakukan itu dan saya yakin saya bisa.”

Sementara orang-orang di kelompok ketiga terpukul jatuh, dan kemudian sibuk mencaci-maki orang lain atas kejatuhannya, lalu memutuskan untuk tetap terkapar sambil meng’aduh-aduh’ di tempat mereka terjatuh... dan membiarkan dirinya terus-menerus ’terpukul’... dan semakin terpukul...

Dan sementara itu pula orang-orang di kelompok kedua juga terpukul jatuh, kemudian sibuk menghakimi dirinya sendiri, namun mereka terseok-seok merangkak menjauh, ’ngacir’ ke arah di mana mereka yakin tidak akan terpukul lagi, dan memutuskan untuk tetap berada di situ saja... Tanpa mereka sadari, ancaman yang sama sangat mungkin datang kembali, hingga lagi-lagi mereka terpukul jatuh... Sangat dikuatirkan, mereka bisa masuk dalam kelompok ketiga.

Pada saat dan kondisi yang bisa jadi sama, orang-orang Kelompok Pertama menyikapi kekalahan dengan cara yang sesungguhnya PALING Terhormat meskipun terkadang sulit diterima oleh sebagian masyarakat, bahkan oleh orang-orang terdekat mereka sendiri.

Kelompok Pertama adalah Kelompok dengan SIKAP PEMENANG:
1. Mereka mengakui kekalahan, namun berani mengambil TANGGUNG-JAWAB untuk menguasai kekalahan
2. Mereka secara terhormat menerima kekalahan itu MURNI sebagai ulahnya sendiri sehingga mereka secara terbuka BERTEKAD untuk selalu melakukan yang Lebih Baik, dan
3. Mereka selalu BANGKIT minimal SATU KALI LEBIH BANYAK dibandingkan mereka terjatuh, dan BERKOMITMEN untuk terus maju menuju Visi Hidup yang telah ditetapkannya.

Orang-orang di Kelompok Pemenang memiliki penghalang namun memutuskan untuk mengatasinya dan bukan mengeluhkannya. Mereka juga diserang oleh penolakan, perlawanan, sikap antipati yang mengecilkan hati, kemunduran, dan berbagai pukulan yang menyakitkan, namun mereka memutuskan untuk menyikapinya sebagai Proses Belajar atau Berlatih menuju Keberhasilan yang Lebih Besar. Mereka memiliki alasan yang sama banyaknya untuk menyerah pada kemunduran atau keterpukulan, namun mereka memiliki Respon Paling Terhormat atau Respon Positif terhadap Kegagalan: Bahwa Kegagalan bukanlah alasan untuk mengasihani diri dalam kekalahan, namun Kegagalan adalah satu-satunya alasan bagi mereka untuk Bangkit kembali dan Berhasil...

Nah... bagaimana dengan Anda?
Pada Kelompok manakah Anda memutuskan untuk meletakkan Diri Anda?

INGAT: bila kita tidak memutuskan untuk menentukan Pilihan dalam Hidup kita, maka pasti ada orang atau pihak lain yang akan memutuskannya untuk kita, dan pada saat itu kita sudah tidak bisa lagi menolaknya.

Artikel ini saya tulis karena saya yakin KITA BISA bersikap PEMENANG atas segala permasalahan yang kita hadapi... dan KITA BISA meraih yang Lebih Baik untuk Kehidupan kita dan untuk orang-orang yang ada di dalam Kehidupan kita...

(Ary WS)

MULAILAH MENGGELINDINGKAN BATU-BATU KARANG YANG KECIL


Inspirasi untuk mengatasi Masalah-Masalah Besar dalam Hidup Anda


Eunice Chew adalah seorang wanita Sukses. Secara finansial, Beliau memiliki penghasilan besar dari merawat orang-orang kaya di Singapura. Ibu Chew juga mengelola sebuah bisnis mega-profit di bidang Herbal Tradisional Tiongkok. Selain itu, wanita yang dinobatkan sebagai Finalis Wanita Teladan Singapura 2005 pada usia 52 tahun ini juga aktif sebagai sukarelawan yang memberikan konsultasi dan pendampingan gratis bagi kaum wanita korban ketidak-setiaan pasangan hidup, dan juga bagi orang-orang yang telah lama menderita sakit tak tersembuhkan.

Eunice Chew menjadi Seorang yang Besar ternyata bukan karena kondisi-kondisi besar atau kondisi yang menguntungkan dirinya untuk menjadi besar. Beliau menjadi seorang yang besar adalah karena Beliau MEMILIH DIRINYA untuk menjadi Besar di tengah-tengah kondisi-kondisi kecil atau kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan, di mana kebanyakan orang akan menyerah dalam kondisi-kondisi tersebut.

Mari kita simak sekilas kisah hidup Eunice Chew…

Chew kecil diangkat anak oleh Keluarga kaya raya Teochew yang ingin memiliki anak perempuan. Masa kanak-kanak Chew kecil dikelilingi kemewahan layaknya anak orang kaya. Namun di sisi lain, Pasangan Teochew memiliki gaya hidup kuno yang tidak mengenal sentuhan, pelukan dan ciuman untuk anak-anak mereka dalam mengungkapkan kasih sayang. Chew kecil tumbuh menjadi wanita yang selalu mendambakan kasih sayang.

Usia 17 tahun, Chew muda menikah dengan seorang pegawai transportasi, dan berharap mendapatkan kasih sayang dari pria itu. Singkat cerita, harapan itu adalah harapan kosong. Sang suami ternyata adalah pria yang suka menyiksa istri. Perkawinan itu hanya bertahan lima tahun, dan Chew muda sudah dikaruniai dua orang anak.

Tidak lama setelah Chew bercerai, ayah angkatnya wafat karena sakit. Pembagian warisan menimbulkan pertikaian sengit dalam keluarga besar Teochew. Akhirnya Chew yang hanya anak angkat harus rela tidak kebagian apa-apa. Lebih parah lagi, saudara-saudaranya, anak kandung Keluarga Teochew sendiri, membebani Chew untuk mengurusi ibu mereka yang sudah buta dan lumpuh. Chew hidup bersama kedua anak dan ibu angkatnya dalam keadaan sangat miskin.

Chew berjualan susu coklat untuk menyambung hidup. Itulah pengalaman pertamanya mencari uang. Setiap malam selesai berjualan, Chew menangis karena dia sama sekali tidak mengerti bagaimana harus menjalankan usaha, bahkan usaha sekecil itu. Chew harus bisa memberi makan ibunya yang mulai sakit-sakitan dan kedua anaknya.

Kepedihan ini mereka jalani selama 2 tahun. Kemudian Chew berganti pekerjaan menjadi koki. Kondisinya pun sama saja. Sekitar dua tahun juga, Chew berganti lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia menumpang kendaraan umum dengan menggendong 3-4 kantong besar berisi baju dagangannya. Saat bersamaan, ia melakukan pekerjaan lain sebagai makelar rumah dan mobil bekas. Sebagai tambahan pula, setiap malam Chew mendesain beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen di Jepang. Meskipun hampir tidak pernah beristirahat sepanjang hari, pendapatannya mulai lumayan. Namun akhir tahun 70-an, pasar tekstil melemah, pekerjaannya menjual pakaian dan mendesain kain pun lenyap.

Chew terpaksa beralih menjadi pelayan restoran. Karena etos kerjanya yang bagus, beberapa saat kemudian dia diangkat menjadi pimpinan pelayan dan akhirnya menjadi manajer untuk bidang entertainment di restoran tersebut. Sementara menekuni pekerjaan itu, Chew tetap menjalani pekerjaan sambilannya sebagai makelar rumah dan mobil.

Alhasil, Chew berhasil mengumpulkan modal untuk mendirikan bisnis sendiri dalam pembuatan asesoris fashion. Namun, kondisi buruk masih menimpanya, dua orang asisten yang dipercaya ternyata kabur bersama semua aset perusahaan. Peristiwa itu terjadi justru di saat Chew sangat membutuhkan uang karena ibunya berkali-kali harus keluar-masuk rumah sakit. Hidupnya yang tadinya mulai tertata mapan, harus dia bangun kembali dari NOL.

Sempat terlintas di benak Chew untuk bunuh diri, namun Tuhan masih mengetuk hati Chew dengan kasih sayangnya pada anak-anak dan juga Ibunya. Chew bangkit, dan memulai lagi usahanya dari awal dengan pinjaman modal dari beberapa sahabat yang bersimpati padanya. Sampai pada akhirnya, Eunice Chew meraih semua keberhasilannya.

Inilah cuplikan pidato Ibu Chew yang dikutip oleh Majalah The Strait Times Singapura ketika Beliau menjadi Finalis Wanita Teladan Singapura:

"Hidup ini telah mengajarkan saya bahwa selalu ada JALAN KELUAR dari setiap KESULITAN. Tenangkan diri untuk mengatasi gejolak, dan melangkahlah setapak demi setapak. Gelindingkan saja batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, hingga akhirnya Anda pasti memiliki kekuatan untuk mendorong batu-batu karang yang besar.”

"Pertimbangkanlah selalu perasaan orang lain terlebih dahulu, BUKANNYA perasaan Anda sendiri. Berusahalah selalu menjadi PIHAK PERTAMA yang memberikan Cinta & Perhatian pada orang lain, dan berhentilah menuntut orang lain memberikannya terlebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk keluar dari kegelapan hidup.”

Ibu Eunice Chew juga memberi saran bagi mereka yang menghadapi kesulitan:
1. Tulislah Daftar Kesulitan yang Anda hadapi itu di atas kertas.
2. Bacalah Daftar Kesulitan Anda
3. Tanyakan pada diri sendiri: ”Apa hal terkecil yang saya BISA lakukan HARI INI untuk mengatasi kesulitan itu?”
4. MULAILAH melakukan hal-hal kecil itu sebagai KOMITMEN...

Gelindingkan saja batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, hingga akhirnya Anda pasti memiliki kekuatan untuk mendorong batu-batu karang yang besar

(Ary WS)

MENGHINDARI GAGAL SEHARUSNYA MUDAH, KARENA HANYA ADA 2 JENIS GAGAL


HANYA ADA 2 JENIS GAGAL, dan PASTIKAN itu BUKAN KITA.

Selalu ada banyak alasan untuk menjadi gagal, karena sejak jaman dulu, yang namanya gagal memang 100% identik dengan banyak alasan. Namun secara garis besar, hanya ada 2 kategori orang gagal atau aksi penyebab kegagalan, yaitu:
1. Those who THOUGHT but never DID, dan
2. Those who DID but never THOUGHT
Silahkan dipikirkan terlebih dulu maknanya…

Oke, sekarang mari kita sama-sama pelajari satu per satu secara singkat saja.

THOUGHT BUT NEVER DID… MEMIKIRKAN TANPA MELAKUKAN
Pendeknya, ini adalah perilaku “panjang angan-angan”. Memiliki Cita-cita besar, bahkan mungkin kepandaiannya juga di atas rata-rata, wawasan dan pengetahuannya sangat luas, konsepnya tentang masa depan sangat menakjubkan, kata-katanya pun mantap, tetapi hampir bisa dipastikan tidak pernah melakukan Aksi-Nyata untuk meraih Cita-cita yang selalu di”kampanye”kan.
Bagaimana bisa masuk kategori ini? Oke, kita sebutkan beberapa penyebabnya, tetapi berjanjilah untuk menghindarinya… yaitu:
1. Procrastination; mereka suka menunda hal-hal yg seharusnya di-Prioritas-kan
2. Mereka tidak memiliki Time-Management
3. Mereka selalu menunggu “saat yang sempurna” untuk memulai aksi-nya; mereka lupa bahwa Keberhasilan justru terjadi ketika kita bisa mengatasi kondisi-kondisi yang tidak sempurna
4. Ada sebagian, kalau tidak keseluruhan, dari “Success Blue-Print” atau “Keyakinan tentang Sukses” dalam diri mereka yang masih harus dibenahi yang menyebabkan kurang atau bahkan tidak adanya keyakinan bahwa dirinya BISA
5. Faktor Kesombongan Diri, biasanya diwujudkan dengan sikap merasa lebih baik dari orang lain, sehingga tidak terlalu membutuhkan orang lain untuk mencapai keberhasilannya; merasa bahwa ide-ide yang diberikan orang lain tidak berguna karena mereka memiliki ide-ide yang lebih bagus.

DID BUT NEVER THOUGHT… MELAKUKAN TANPA MEMIKIRKAN
Naah… tipe ini nih yang kayaknya paling banyak terjadi. Mereka bekerja keras setiap hari, melakukan berbagai kesibukan, sambil berharap sebuah “keajaiban” akan datang secara tiba-tiba dalam hidupnya. Ketika diajak bicara soal cita-cita atau rencana yang konkrit untuk masa depan, jawabnya: ”Wis to, gak perlu rencana muluk-muluk, yang penting saya punya cita-cita pingin ini-itu, dan saya harus bekerja.”

Banyak orang pergi bekerja setiap hari, berangkat pagi, pulang hingga sore atau bahkan malam, jika perlu menghibur diri terlebih dulu, dan baru kemudian tidur. Besoknya, begitu lagi, dan begitu lagi besoknya… hingga akhir pekan mereka bersantai bersama keluarga, lalu pekan depannya memulai lagi siklusnya. Tanpa terasa, 1 tahun berlalu, 2 tahun terlewati, 5 tahun, 10 tahun, 15 atau 20 tahun pun terlampaui, dan tiba-tiba mereka sudah berada di “masa depan” sambil bertanya-tanya: “Kok gini-gini aja ya…? Mana nih cita-citaku? Kan aku sudah kerja keras setiap hari…?”

Yang lebih parah lagi, mereka mulai menyalahkan pihak lain: “Sial! Pemerintah gak becus ngatur perekonomian, makanya gajiku naik tapi tetep aja gak cukup.” Atau “Sekian tahun aku tertipu, aku sudah loyal, tapi perusahaan tidak pernah menghargai lebih.” Dan yang paling parah adalah mereka yang mulai menyalahkan Tuhan.

Orang gagal tipe ini bisa diibaratkan seperti Penebang Pohon yang tidak pernah mengasah gergajinya. Masih ingat ceritanya? Ada 2 orang Penebang Pohon. Si A, bukan ahli dalam menebang, sedangkan si B dikenal sangat ahli. Ketika diminta menebang sebanyak-banyaknya pohon mulai pagi sampai sore, ternyata justru si A menebang lebih banyak dibanding si B. Si B yang merasa dirinya ahli dan memiliki teknik menebang terbaik sangat heran: “Hai A, maafkan aku, aku lihat caramu menebang tidak sebaik aku. Selain itu, kamu lebih banyak istirahat dibandingkan aku. Bagaimana bisa kamu menebang lebih banyak dengan energi yang lebih sedikit?” Si A hanya menjawab: “Ketika aku beristirahat, aku bersantai sambil mengasah gergajiku, maka gergajiku hampir tidak pernah tumpul. Dan akupun bersantai sambil mengamati caramu menebang, maka kemampuanku pun bertambah.”

Karena itulah dikatakan, bekerja keras saja tidak cukup, kita juga harus bekerja pintar. Memang, ACTION adalah rangkuman dari semua cara untuk Sukses yang pernah diajarkan di muka bumi ini. Namun, ACTION yang dimaksudkan ada dua, yaitu: Plan and Work, Merencanakan dan Mengerjakan.

Rencana itu sendiri harus mencakup:
1. Menetapkan Goal atau Tujuan secara jelas dan terperinci
2. Menetapkan Langkah-Langkah yang harus ditempuh
3. Melengkapi diri dengan kompetensi yang dibutuhkan
4. Melakukan Evaluasi

Sebagai kesimpulan dari catatan di atas:
Satu-satunya Cara Jitu agar kita tidak termasuk 2 kategori orang gagal di atas, adalah:
Plan your Work and Work your Plan... Rencanakan Kerjamu dan Kerjakan Rencanamu...

Pasti bermanfaat untuk kita terapkan mulai saat ini juga... dan kemudian jadikan bermanfaat pula untuk lebih banyak orang.
Salam Bahagia & Sukses selalu...

(Ary Wiryosaputro)

Sabtu, 22 Mei 2010

Dijual: PASANGAN HIDUP YANG SEMPURNA... di Lantai 6


Memahami Hakikat Kesempurnaan sebagai Pasangan

Saudara-Saudaraku yang berbahagia, sesungguhnya setiap Nikmat yang Tuhan berikan kepada kita adalah sebuah Amanah yang harus kita tunaikan dengan cara mensyukurinya. Dan mensyukuri Nikmat Tuhan, selain dengan pujian terbaik yang kita ucapkan untuk-NYA, yang lebih utama adalah dengan memanfaatkan Nikmat itu untuk kepentingan-kepentingan yang mendukung Kebaikan bagi diri sendiri dan juga mendukung Kebaikan bagi lebih banyak orang lain. Dengan demikian, Tuhan pun memiliki alasan untuk menambahkan lebih banyak lagi Nikmat-NYA kepada kita.

Kesempurnaan... bukan ketika kita bisa mengumpulkan beragam Kebaikan di dalam diri kita. Kesempurnaan... lebih ditentukan ketika kita bisa memberdayakan setidaknya satu Kebaikan yang kita miliki untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi Kehidupan.

Demikian pula, ketika kita mengharapkan kesempurnaan dari orang lain —entah itu kawan, tetangga, teman sekantor, atasan, bawahan, keluarga, anak-anak kita, ataupun Pasangan Hidup kita— kuranglah adil kalau kita hanya menuntut mereka memiliki berbagai macam Kebaikan di dalam dirinya. Alangkah lebih adil dan bijaksana, jika kita mensyukuri Kebaikan yang telah mereka miliki dengan cara mendukung mereka untuk memberdayakan Kebaikan itu agar membawa manfaat sebesar-besarnya bagi semuanya.

Ijinkan kami mendedikasikan cerita berikut ini bagi Anda yang saat ini sedang menjalani sebuah proses pencarian Pasangan Hidup atau berencana untuk menjadikan seseorang sebagai Pasangan Hidup. Lebih dari itu, kami juga berharap cerita ini bisa memberi inspirasi bagi kita yang telah memiliki Pasangan Hidup, agar kita tidak sekedar menuntut lebih banyak Kebaikan dari Pasangan Hidup kita, tetapi lebih berfokus pada mendukung pemberdayaan Kebaikan-Kebaikan yang telah mereka miliki.

Sebagai catatan, kisah ini hanyalah sekedar penggambaran yang inspiratif, bukanlah kisah nyata.

-------------------- o o o O o o o --------------------

Ini adalah sebuah toko yang sangat unik. Di sini kita bisa memilih dan membeli Pasangan Hidup. Toko Pasangan Hidup. Wanita bisa beli suami, dan Pria bisa beli istri. Untuk memberi pelayanan berupa keleluasaan memilah dan memilih, telah disiapkan 6 Lantai. Setiap kelompok Calon Pasangan Hidup dengan kategori tertentu dikumpulkan dalam satu Lantai.

Setiap pelanggan disambut oleh resepsionis dan kemudian diberikan instruksi-instruksi berupa Aturan Main yang wajib ditaati. Begini bunyinya:
1. Pelanggan adalah mereka yang BELUM memiliki Pasangan Hidup
2. Setiap Pelanggan hanya diperbolehkan mengunjungi toko ini SATU KALI seumur hidup!
Percayalah, toko ini mempunyai cara terbaik di dunia untuk mendeteksi kedatangan Anda yang kedua kalinya atau lebih, karena itu manfaatkanlah baik-baik Kunjungan Anda ini
3. Setiap Pelanggan hanya diperkenankan membeli SATU Pasangan Hidup saja
4. Jika Anda memutuskan untuk naik ke Lantai berikutnya, maka Anda sama sekali TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK TURUN KEMBALI, kecuali melalui Jalur Khusus yang langsung menuju Pintu Keluar

Suatu hari, seorang wanita datang ke toko itu, tentu saja untuk mencari suami. Setelah diterangkan oleh resepsionis, wanita ini pun mulai “browsing”. Dia memasuki Lantai Satu dan mendapati sebuah banner dengan tulisan:

”Lantai 1 – BAIK: Calon Suami yang memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan”

Wanita itu tersenyum, “Hmm… baik, tapi biasa saja…” pikirnya, kemudian naik ke lantai selanjutnya, dan melihat banner lagi bertuliskan:

“Lantai 2 – BAIK JUGA: Calon Suami yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan sayang anak.”

“Hmm… boleh juga” pikir wanita itu. Tetapi, mulai timbul penasaran, wanita itu memutuskan naik ke lantai selanjutnya dengan banner:

”Lantai 3 – JUGA BAIK : Calon Suami yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak dan juga tampan.”

”Woww… tampan? Ini sih lebih baik! Kenapa dibilang Juga Baik,” pikirnya. ”Ada tambahan apa lagi di lantai ke-empat ya...?” dia makin penasaran dan terus naik ke Lantai 4.

Bannernya bertuliskan: “Lantai 4 - SAMA BAIKNYA: Calon Suami yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak, tampan dan menyukai pekerjaan rumah.”

“Ya ampun!” wanita itu berseru, “kenapa dikatakan sama baiknya?? Bukankah ini semakin baik??” Dan terus makin penasaran, dia tidak juga berhenti, melanjutkan ke lantai 5.

Bannar Lantai 5 begini: “Lantai 5 - TEPAT: Ini Calon Suami yang Tepat untuk Anda! Para pria di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak, tampan, menyukai pekerjaan rumah, dan sangat romantis.”

”This is perfect!” Pikirnya, dan dia pun memanggil pramuniaga, meminta agar dibantu memilih satu dari beberapa Calon Suami di Lantai 5. Tapi......... setelah melihat beberapa pria, wanita itu tampak mikir lagi, ”Hmm… kan masih ada Lantai 6, kenapa harus berhenti di sini? Pastinya Lantai 6 akan lebih baik lagi daripada yang di Lantai 1 sampai 5 ini…”

Wanita itu bertanya pada pramuniaga, ”Mbak, apa nama untuk Lantai 6?”
”Lantai 6 adalah Lantai SEMPURNA,” jawab pramuniaga. ”Anda yakin tidak jadi memilih di Lantai 5?”
”Naah... tepat dugaanku!” wanita itu berseru, ”Maaf, Mbak, tidak jadi. Saya ke Lantai 6 saja deh. Aduuh… seperti apa ya? Oh my God, pasti jodohku ada di atas.” Wanita itu pun melangkah mantap menuju Lantai 6,

Sesampai di sana, tidak lagi dijumpai banner, tapi ada 2 layar monitor. Monitor pertama yang menyambutnya bertuliskan:

”Selamat Datang di Lantai SEMPURNA”.

Wanita itu pun makin tersenyum kegirangan, siap menemui seorang Pria Sempurna idamannya. Dengan penuh semangat dia berjalan lagi, dan tak jauh kemudian ketemu dengan Monitor kedua yang menampilkan tulisan:

”Selamat! Anda adalah pengunjung kami ke 43,829,641 sejak kami buka. Mohon maaf, kami tidak pernah memiliki stock Pasangan Hidup di Lantai ini karena kami tidak pernah berhasil menemukan seseorang yang SEMPURNA.”

Sesuai aturan main, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Turun dari Lantai 6 dengan expresi wajah sangat kecewa, wanita itu diberi secarik kertas oleh pramuniaga di pintu keluar yang bertuliskan :

”Lantai 6... maaf jika kami harus mengatakan hal ini. Pintu Keluar di lantai 6 adalah sebagai bukti bahwa banyak sekali manusia tidak pernah bersyukur dengan apa yang sebenarnya Tuhan persiapkan sebagai Anugerah bagi dirinya. Mereka bahkan menolak meskipun sudah bisa melihat banyak kebaikan padanya...

Kesempurnaan Pasangan Hidup Anda bukanlah diukur semata-mata dari Kebaikan yang mereka miliki, tetapi juga diukur dari bagaimana cara Anda melengkapi hidup mereka dengan Kebaikan yang Anda miliki. Untuk itulah Anda Berdua disebut sebagai Pasangan.

Terima kasih telah mengunjungi toko Pasangan Hidup. Tetaplah tersenyum bahagia karena setidaknya Anda telah mendapatkan sebuah Pelajaran Berharga hari ini.”

------------------ oooOooo -------------

Sahabat dan Keluarga Indonesia, semoga cerita ini, walaupun hanya sekedar fiktif, bisa memberi kita Pencerahan yang membuat kita lebih mensyukuri Pasangan Hidup ataupun Calon Pasangan Hidup kita.

Agar lebih meresap ke dalam hati dan kita jadikan salah satu Nilai Kebaikan dalam Kehidupan kita, marilah kita baca sekali lagi bagian terpenting dari tulisan ini, yaitu:

Kesempurnaan Pasangan Hidup Anda bukanlah diukur semata-mata dari Kebaikan yang mereka miliki, tetapi juga diukur dari bagaimana cara Anda melengkapi hidup mereka dengan Kebaikan yang Anda miliki. Untuk itulah Anda Berdua disebut sebagai Pasangan.

Sampaikan salam saya untuk Pasangan Hidup Anda, dan hari ini juga ketika Anda bertemu dengan Beliau, katakan, atau setidaknya tunjukkan melalui sikap yang bisa terbaca dengan jelas olehnya bahwa Anda sangat bersyukur kepada Tuhan karena memiliki Beliau sebagai Pasangan Hidup Anda.

(Ary Wiryosaputro)

Jumat, 21 Mei 2010

LEBIH PEKA TERHADAP CARA TUHAN MENJAWAB DOA KITA...


MANA YG LEBIH KITA DENGARKAN: ”Uang Logam” ATAU ”Jangkrik”?

Cak Ri, wong ndeso yg lugu, suatu hari berkunjung ke Henri, saudaranya di kota. Sore itu, mereka berjalan-jalan menyusuri trotoar di tengah hiruk-pikuk & kebisingan kota.

"Henri,” kata Cak Ri tiba-tiba berhenti dan menahan langkah saudaranya, ”Apa kamu dengar suara itu?"

Henri menoleh ke Cacak sepupunya dengan heran. Cacak adalah panggilan untuk kakak laki-laki dlm bahasa Jawa. ”Maksud Cak Ri, klakson bis yg barusan lewat itu? Ya, tentu aku dengar. Ada yg aneh?" tanya Henri.

"Bukan itu,” jawab Cak Ri, ”Ada jangkrik! Aku dengar ada jangkrik lagi nyanyi di sekitar sini."

"Hahaha...” Henri tertawa,”Aneh2 aja sampean, Cak. Kangen kampung nih... Mana ada jangkrik di sini? Kalaupun ada, gimana orang bisa dengar suara jangkrik di tengah suara bising begini?"

"Tidak.. tidak..!” sela Cak Ri, ”Aku yakin ada bunyi jangkrik di dekat sini... Nah... itu... sekarang dia bunyi lagi..."

Cak Ri menepi, mendekati sekerumunan tanaman. Wong Ndeso itu menjulurkan tangan dan memetik sebatang ranting, Henri makin heran dengan tingkah Cacak-nya itu. Cak Ri menunjukkan beberapa helai daun kepada Henri. Dan ada seekor jangkrik sedang berderik di atasnya.

”Naaah.... kau dengar kan sekarang?” tanya Cak Ri sambil tersenyum. Henri mengangguk takjub.

”Waooww... hebat sampean, Cak!” puji Henri, "Ternyata Cak Ri punya pendengaran lebih tajam daripada kupingnya orang-orang kota..."

Cak Ri tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala, "Nggak... Aku nggak setuju kamu bilang begitu. Wong Ndeso belum tentu kupingnya lebih tajam daripada orang kota."

”Buktinya Cak Ri bisa denger jangkrik bunyi di sela-sela situ,” kata Henri, ”sedangkan aku & orang2 yg lalu lalang dari tadi nggak ada yg dengar...”

”Yo wis, ayo kita buktikan,” kata Cak Ri sambil mengeluarkan uang dari kantong, ”Lihat uang logam ini ya...”

Henri mengangguk namun tidak mengerti apa maksudnya. Belum sempat dia bertanya, Cak Ri menjatuhkan uang logam itu ke atas trotoar. Krincing... krinciiing... Gemerincingnya membuat banyak orang menoleh. Beberapa orang bahkan sempat berhenti dan hendak memungutnya, sebelum mereka tahu ternyata ada yang memiliki uang itu. Cak Ri memungutnya kembali.

"Kau dengar sendiri kan? Bahkan suara uang itu tidak lebih keras daripada suara jangkrik kita tadi. Meski begitu, teman-teman kotamu toh bisa mendengarnya dan menoleh, malah ada yg mau ngambil. Sedangkan jangkrik yg suaranya lebih keras tadi, kalian tidak ada yg mendengarnya, hanya aku.”

”Iya juga ya...” kata Henri mulai mengerti tetapi masih belum paham, ”tapi, kok bisa gitu ya, Cak...??”

”Hehehe....” gantian Cak Ri yg tertawa, ”Alasan satu-satunya adalah: kamu, aku, dan semua orang di dunia ini selalu bisa mendengar lebih baik hal-hal yang biasanya menjadi perhatian kita, hal-hal yang kita cintai atau senangi, yang menjadi fokus kita."

"Bagiku," lanjut Cak Ri,"bunyi jangkrik itu adalah salah satu bunyi pelepas lelah saat kami pulang dari kebun atau dari sawah, bunyi yg mengiringi istriku membacakan cerita pengantar tidur buat anak-anak, bunyi yang menemani aku minum teh hangat pada malam hari. Bunyi sebuah nyanyian yang mengiringi malam-malam kami melepas lelah dan ketika kami bersujud syukur kepada Tuhan atas hidup yang begitu indah ini..."

”Aku ngerti, Cak...” kata Henri, ”orang-orang kota, kebanyakan yang mereka pikirkan adalah uang, jadi bunyinya pun mudah menarik perhatian mereka...”

”Kau sendiri yang mengatakannya... walaupun tidak selalu dan tidak semuanya begitu...” jawab Cak Ri singkat.

Mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah kedai dan menikmati kopi hangat sore itu.

---ooOoo---


Naah... kawan-kawan yang berbahagia... coba ingat ketika kita sedang dalam masalah, kemudian kita berdoa kepada Tuhan, kadang kita sampai menangis mengiba-iba... jika perlu, kita makin rajin mendatangi-NYA di rumah-rumah ibadah... pendeknya, kita ‘caper’ banget, kita getol mencuri perhatian-NYA... Dan beberapa saat kemudian, kita kecewa... kita merasa: ”Tuhan kok diam saja ya... saya kok dicuekin ya... kok tetep gini-gini aja kenapa ya?”

Ayo kita renungkan... sebenarnya BUKAN karena Tuhan tidak menjawab, tapi karena kita seringkali hanya fokus pada diri kita sendiri, kita cuma mikirin permasalahan kita saja, kita kurang memusatkan hati secara tulus untuk meraih Cinta Kasih Tuhan dan Pertolongan-NYA...

Kita ’pasang telinga’ hanya untuk jawaban Tuhan yg sesuai keinginan kita saja... kita ’maksa’ Tuhan menjawab pake cara kita... Ketika DIA menjawab doa kita dengan cara lain -yang sesungguhnya adalah Cara Terbaik bagi kita-, kita menolaknya, bahkan kita tidak mau peka untuk ”mendengarkannya”... jadi, siapa yg sebenarnya cuek??

Bagaimana caranya agar kita mampu mendengarkan jawaban-NYA dengan lebih baik?
Sederhana saja: ”Mintalah petunjuk pada hatimu...”

Salam Sukses & Sejahtera...
Let’s Make a Better World...

(Ary WS)

MENGAPA TUHAN "terkadang" MEMBUAT KITA TERDESAK & TERPURUK?


"Ya Tuhan, janganlah Engkau singkirkan bukit-bukit terjal yang menghalangi jalanku... namun berilah aku kaki yang kuat untuk mendaki dan melintasinya, sehingga aku bisa melihat lebih banyak lagi Pemandangan-PemandanganMU yang lebih indah dari atas sana..."

Keterbukaan hati untuk memahami Hikmah seringkali terjadi saat Keterdesakan atau Keterpurukan memaksa kita untuk memahaminya, tak lain agar kita segera terbebas dari Keterdesakan atau Keterpurukan itu.

Karenanya, dalam banyak hal, Keterdesakan atau Keterpurukan memang kita perlukan, agar semakin tajam Kepekaan Hati kita untuk mengambil lebih banyak Hikmah dari Kehidupan.

Demikianlah Rencana Terbaik dari Tuhan yang acapkali tidak kita pahami.

(Ary WS... disadur dari Syair Jalaluddin Rumi)

LAKUKAN --bila perlu, sekarang juga-- SELAGI ADA WAKTU


KISAH INI CUKUP SERING KITA DENGAR & DISAMPAIKAN DALAM BERBAGAI KESEMPATAN. MARILAH KITA ULANG SEKALI LAGI AGAR KITA SELALU INGAT BETAPA PENTINGNYA "Keseimbangan Hidup", KHUSUSNYA ANTARA PEKERJAAN DAN KELUARGA...

MANAKAH YANG SESUNGGUHNYA LEBIH KITA CINTAI? DAN MANAKAH YANG SEHARUSNYA MENDAPAT PERHATIAN UTAMA? TENTUNYA TANPA MENGESAMPINGKAN YANG LAINNYA...


John termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya yang menumpuk dan harus segera terselesaikan. Semuanya sia-sia belaka.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan Magy, putri kecilnya, pada suatu hari. Malam itu, 3 minggu sebelumnya, John seperti biasa membawa pulang tumpukan pekerjaannya.

Saat John sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, Magy kecil yang baru 2 tahun datang menghampiri dengan sebuah buku cerita baru kesayangannya. Buku cerita anak-anak bergambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, "Papa lihat buku Magy, Pa...”

John menengok kearah Magy dan berkata, "Wah, buku baru ya?"
"Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Papa bacain dong buat Magy..."
"Wah, Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang ya...", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Magy hanya berdiri terpaku disamping sang Ayah sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Mama bilang kalo Papa mau bacain cerita buat Magy...".

Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat sibuk. Magy minta Mama saja untuk membacakannya ya..."
"Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu."

"Lain kali Magy… sudah sana! Papa sedang banyak kerjaan nih..."
John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih memegang erat bukunya, dan dengan gaya manja anak-anak, sedikit menempelkan tubuh mungilnya di kaki sang Ayah. Lama sekali John mengacuhkan anaknya.

Tiba-tiba Magy mulai lagi "Papa liat donk, Pa… gambarnya bagus sekali dan ceritanya juga bagus! Papa pasti suka".

"Magy, sekali lagi Papa bilang: Lain kali! Magy dengar kan Papa bilang Papa sibuk?" dengan agak keras John membentuk anaknya.

Terkaget dan hampir menangis Magy mulai menarik tubuhnya dari sang Ayah, "Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali..."

Tapi Magy mendekati lagi Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, kemudian meletakkan bukunya di pangkuan sang Ayah.

"Kapan saja Papa ada waktu ya Pa... Papa tidak usah baca buat Magy, Papa baca buat Papa sendiri aja ya... Tapi Papa bacanya yang keras ya, Pa... supaya Magy juga bisa ikut dengar...".

John hanya diam dan menoleh sebentar ketika Magy berjalan dengan langkah-langkah kecilnya meninggalkan sang Ayah.

Kejadian 3 minggu lalu itulah yang sekarang berkemelut dalam diri John. Dia teringat Magy yang penuh pengertian mengalah. Magy kecil yang baru berusia 2 tahun meletakkan tangannya yang mungil di atas tangannya: ”... Tapi Papa bacanya yang keras ya, Pa... supaya Magy juga bisa ikut dengar..." Kata-kata Magy itu terus terngiang dalam benak John.

Karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya dari sebuah rak mainan di sudut kamar Magy. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya.
John melupakan pekerjaannya yang dulu amat penting bagi dia. Ia bahkan lupa dengan kemarahan dan kebenciannya pada pemuda ugal-ugalan yang dengan kencang menghantam tubuh putrinya di jalan menuju sekolah.

John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin...

Lakukan hal-hal terindah sebisa mungkin untuk orang-orang yang Anda kasihi dengan sisa waktu yang masih Anda miliki, yang sesungguhnya tidak pernah bisa Anda ketahui seberapa lama lagi....... sebelum segalanya terlambat dan tidak ada lagi yang bisa Anda lakukan untuk menggantikannya.

Selamat Berakhir Pekan dengan KELUARGA TERCINTA... Keluarga Terbaik yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita semua...

(Ary WS)