
David J.Schwartz mengatakan: Adalah tidak mungkin untuk mencapai keberhasilan yang besar tanpa menjumpai perlawanan, kesukaran dan kemunduran. Akan tetapi adalah mungkin untuk menjalani hidup anda selebihnya tanpa Kekalahan.
Ketika saya mengutip kalimat di atas dan kemudian menulis artikel ini, saya benar-benar sedang berada di ’persimpangan jalan’ di mana saya harus membuat Keputusan yang tepat untuk SISA HIDUP saya, dan sangat besar kemungkinan bahwa Keputusan saya ini juga berpengaruh pada Sisa Hidup setiap anggota keluarga saya. Dalam format yang berbeda, saya yakin bahwa Anda pun sedang dihadapkan setidaknya pada satu masalah yang mengharuskan Anda untuk memutuskan Satu Pilihan yang Terbaik.
Fakta yang seharusnya membuat kita semua ”ngeri” adalah, bila kita tidak memutuskan untuk menentukan Pilihan dalam Hidup kita, maka pasti ada orang atau pihak lain yang akan memutuskannya untuk kita, dan pada saat itu kita sudah tidak bisa lagi menolaknya.
Sebelum Anda dan saya mengambil keputusan, ijinkan saya mengajak Anda ’berekreasi’ menemui 3 Kelompok orang. Sesungguhnya, tujuan saya adalah mengajak Anda dan khususnya diri saya sendiri untuk memilih dan memutuskan pada Kelompok manakah kita ingin dan seharusnya berada. Dengan cara yang sedikit berbeda, kita mulai dari Kelompok Ketiga, lalu Kelompok Kedua, dan barulah Kelompok Pertama.
Inilah kelompok ketiga yang kita kunjungi.
Lihatlah, mereka berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang pendidikannya rendah dan ada juga yang sangat tinggi. Ada yang masih jomblo, ada yang sedang merencanakan pernikahan, ada yang sudah menikah, dan ada juga yang sudah bercerai. Ada yang berasal dari keluarga miskin, menengah, maupun kaya. Juga, mereka berasal dari berbagai daerah, ada yang dari pedalaman, ada yang dari desa, dan ada yang dari kota.
Namun, semua orang di kelompok ketiga ini sesungguhnya mempunyai satu kesamaan. Mari kita dengarkan hal-hal seperti apa yang mereka katakan tentang kondisi hidupnya:
”Perusahaan ini penyebab kesialan saya. Seharusnya saya bekerja pada perusahaan yang lebih bagus daripada yang sekarang.”
”Saya adalah korban dari perekonomian yang buruk, bisnis saya hancur dan saya tidak menemukan jalan lagi untuk menyelamatkannya, terpaksa inilah yang saya lakukan sebisanya.”
”Seandainya orang-orang itu tidak menipu saya, pastilah saya tidak seperti ini.”
”Kalau saja dia tidak menyakiti saya, pasti saya lebih bahagia daripada sekarang. Gara-gara dia, hancurlah hidup saya. Dia bertanggung-jawab atas semua ini.”
”Atasan saya begitu bodoh, bagaimana saya bisa memperbaiki karir saya?”
...dan berjuta-juta ungkapan lain, yang pada intinya adalah sama, yaitu:
1. mereka merasa kalah, tapi tidak mau mengakuinya, karena itu
2. mereka selalu menemukan orang atau pihak lain yang –menurut mereka- menjadi penyebab kekalahan yang mereka alami, dan
3. mereka memilih untuk tetap berada pada kondisi yang ’kalah’,
Tapi mereka bersemangat sekali...! O ya... tidak diragukan, mereka sangat bersemangat...! Bersemangat untuk menceritakan kepada orang lain tentang siapa-siapa atau apa-apa saja yang menghancurkan mereka. Pendeknya, cerita paling seru di kelompok ketiga adalah cerita mengenai kekalahan mereka.
Hmm... kedengarannya sangat mengerikan sekali...
Baiklah, mari kita berjalan lagi menuju Kelompok Kedua. Coba kita lihat, ternyata latar belakang kelompok kedua ini juga beraneka ragam seperti pada kelompok sebelumnya. Ayo kita dengarkan bagaimana mereka bercerita tentang hidupnya:
”Perusahaan ini lumayan bagus, tapi kemampuan saya sudah maksimal, saya jalani saja.”
”Saya tahu ada banyak peluang di kondisi ekonomi seperti ini, tapi saya tidak berani mengambil resiko seperti si A atau si B. Walaupun berat, saya tetap seperti ini saja.”
”Saya memang bodoh hingga mereka menipu saya, ini salah saya, karena itu saya lebih baik tidak mencoba hal-hal semacam itu lagi.”
”Dia memang menyakiti saya, namun biarlah saya sendiri yang menanggungnya, saya berusaha bahagia meskipun sendiri.”
”Bukan salah atasan saya, tapi saya memang sudah tidak mungkin lagi memperbaiki karir saya.”
Perbedaannya dengan kelompok sebelumnya adalah, orang-orang di Kelompok Kedua ini menyikapi kekalahan dengan cara yang lebih terhormat dan bisa diterima lebih baik oleh sebagian besar masyarakat, yaitu:
1. mereka juga merasa kalah, namun tidak secara total kekalahan itu menguasai dirinya
2. mereka menerima kekalahan itu sebagai ulahnya sendiri, sehingga secara terhormat mereka pun tidak serta-merta menuding pihak lain sebagai penyebab kekalahan yang mereka alami, dan
3. mereka mencoba mencari tempat yang menurut mereka aman... tidak lebih!
Sepertinya kondisi-kondisi yang memang aman-aman saja... meskipun sesungguhnya bukanlah kondisi-kondisi yang mereka inginkan. Bukan begitu?
Nah... mari kita mengakhiri ’tour’ kita ini di Kelompok Pertama, yang ternyata tidak banyak orangnya. Sangat sedikit. Namun, begitu kita datang, mereka menyambut kita dengan senyuman, mereka menyambut kita dengan tatap mata berbinar dan jabat tangan yang erat. Sebelum mereka mengatakan sesuatu tentang diri mereka, kita bisa tahu bahwa mereka sedang berbahagia, mereka sedang menikmati kehidupannya, mereka benar-benar ’hidup’ dalam kehidupannya.
Padahal... woow... ternyata latar belakang mereka juga sama saja dengan dua kelompok sebelumnya, dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi. Mari kita dengarkan bagaimana sebenarnya cerita-cerita mereka tentang hidupnya:
”Perusahaan ini sangat bagus, saya bangga bekerja di sini. Namun karena visinya tidak sejalan dengan visi pribadi saya, maka saya putuskan untuk berganti karir. Saya berani dan saya bisa.”
”Saya tahu ada banyak peluang di kondisi ekonomi seperti ini, karena itulah saya harus memanfaatkannya agar bisa sukses seperti si A atau si B. Walaupun berat, saya akan hadapi resikonya. Kalau mereka bisa, saya pasti juga bisa.”
”Orang bilang mereka menipu saya, tapi sesungguhnya yang terjadi adalah Tuhan mengirim mereka untuk memberi saya pelajaran yang sangat berharga agar bisa meraih Keberhasilan lebih besar. Saya bisa.”
”Dia memang menyakiti saya, dan mungkin sekali itu adalah salah saya karena tidak bisa membuatnya bahagia. Saya harus memperbaiki kesalahan saya dalam hubungan. Dan Kebahagiaan saya adalah saya sendiri yang menentukannya.”
”Oo tidak... sama sekali bukan salah atasan saya, saya sendiri yang harus meningkatkan kompetensi dan saya sendiri yang akan menentukan karir saya. Saya akan lakukan itu dan saya yakin saya bisa.”
Sementara orang-orang di kelompok ketiga terpukul jatuh, dan kemudian sibuk mencaci-maki orang lain atas kejatuhannya, lalu memutuskan untuk tetap terkapar sambil meng’aduh-aduh’ di tempat mereka terjatuh... dan membiarkan dirinya terus-menerus ’terpukul’... dan semakin terpukul...
Dan sementara itu pula orang-orang di kelompok kedua juga terpukul jatuh, kemudian sibuk menghakimi dirinya sendiri, namun mereka terseok-seok merangkak menjauh, ’ngacir’ ke arah di mana mereka yakin tidak akan terpukul lagi, dan memutuskan untuk tetap berada di situ saja... Tanpa mereka sadari, ancaman yang sama sangat mungkin datang kembali, hingga lagi-lagi mereka terpukul jatuh... Sangat dikuatirkan, mereka bisa masuk dalam kelompok ketiga.
Pada saat dan kondisi yang bisa jadi sama, orang-orang Kelompok Pertama menyikapi kekalahan dengan cara yang sesungguhnya PALING Terhormat meskipun terkadang sulit diterima oleh sebagian masyarakat, bahkan oleh orang-orang terdekat mereka sendiri.
Kelompok Pertama adalah Kelompok dengan SIKAP PEMENANG:
1. Mereka mengakui kekalahan, namun berani mengambil TANGGUNG-JAWAB untuk menguasai kekalahan
2. Mereka secara terhormat menerima kekalahan itu MURNI sebagai ulahnya sendiri sehingga mereka secara terbuka BERTEKAD untuk selalu melakukan yang Lebih Baik, dan
3. Mereka selalu BANGKIT minimal SATU KALI LEBIH BANYAK dibandingkan mereka terjatuh, dan BERKOMITMEN untuk terus maju menuju Visi Hidup yang telah ditetapkannya.
Orang-orang di Kelompok Pemenang memiliki penghalang namun memutuskan untuk mengatasinya dan bukan mengeluhkannya. Mereka juga diserang oleh penolakan, perlawanan, sikap antipati yang mengecilkan hati, kemunduran, dan berbagai pukulan yang menyakitkan, namun mereka memutuskan untuk menyikapinya sebagai Proses Belajar atau Berlatih menuju Keberhasilan yang Lebih Besar. Mereka memiliki alasan yang sama banyaknya untuk menyerah pada kemunduran atau keterpukulan, namun mereka memiliki Respon Paling Terhormat atau Respon Positif terhadap Kegagalan: Bahwa Kegagalan bukanlah alasan untuk mengasihani diri dalam kekalahan, namun Kegagalan adalah satu-satunya alasan bagi mereka untuk Bangkit kembali dan Berhasil...
Nah... bagaimana dengan Anda?
Pada Kelompok manakah Anda memutuskan untuk meletakkan Diri Anda?
INGAT: bila kita tidak memutuskan untuk menentukan Pilihan dalam Hidup kita, maka pasti ada orang atau pihak lain yang akan memutuskannya untuk kita, dan pada saat itu kita sudah tidak bisa lagi menolaknya.
Artikel ini saya tulis karena saya yakin KITA BISA bersikap PEMENANG atas segala permasalahan yang kita hadapi... dan KITA BISA meraih yang Lebih Baik untuk Kehidupan kita dan untuk orang-orang yang ada di dalam Kehidupan kita...
(Ary WS)




