Jumat, 21 Mei 2010

LEBIH PEKA TERHADAP CARA TUHAN MENJAWAB DOA KITA...


MANA YG LEBIH KITA DENGARKAN: ”Uang Logam” ATAU ”Jangkrik”?

Cak Ri, wong ndeso yg lugu, suatu hari berkunjung ke Henri, saudaranya di kota. Sore itu, mereka berjalan-jalan menyusuri trotoar di tengah hiruk-pikuk & kebisingan kota.

"Henri,” kata Cak Ri tiba-tiba berhenti dan menahan langkah saudaranya, ”Apa kamu dengar suara itu?"

Henri menoleh ke Cacak sepupunya dengan heran. Cacak adalah panggilan untuk kakak laki-laki dlm bahasa Jawa. ”Maksud Cak Ri, klakson bis yg barusan lewat itu? Ya, tentu aku dengar. Ada yg aneh?" tanya Henri.

"Bukan itu,” jawab Cak Ri, ”Ada jangkrik! Aku dengar ada jangkrik lagi nyanyi di sekitar sini."

"Hahaha...” Henri tertawa,”Aneh2 aja sampean, Cak. Kangen kampung nih... Mana ada jangkrik di sini? Kalaupun ada, gimana orang bisa dengar suara jangkrik di tengah suara bising begini?"

"Tidak.. tidak..!” sela Cak Ri, ”Aku yakin ada bunyi jangkrik di dekat sini... Nah... itu... sekarang dia bunyi lagi..."

Cak Ri menepi, mendekati sekerumunan tanaman. Wong Ndeso itu menjulurkan tangan dan memetik sebatang ranting, Henri makin heran dengan tingkah Cacak-nya itu. Cak Ri menunjukkan beberapa helai daun kepada Henri. Dan ada seekor jangkrik sedang berderik di atasnya.

”Naaah.... kau dengar kan sekarang?” tanya Cak Ri sambil tersenyum. Henri mengangguk takjub.

”Waooww... hebat sampean, Cak!” puji Henri, "Ternyata Cak Ri punya pendengaran lebih tajam daripada kupingnya orang-orang kota..."

Cak Ri tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala, "Nggak... Aku nggak setuju kamu bilang begitu. Wong Ndeso belum tentu kupingnya lebih tajam daripada orang kota."

”Buktinya Cak Ri bisa denger jangkrik bunyi di sela-sela situ,” kata Henri, ”sedangkan aku & orang2 yg lalu lalang dari tadi nggak ada yg dengar...”

”Yo wis, ayo kita buktikan,” kata Cak Ri sambil mengeluarkan uang dari kantong, ”Lihat uang logam ini ya...”

Henri mengangguk namun tidak mengerti apa maksudnya. Belum sempat dia bertanya, Cak Ri menjatuhkan uang logam itu ke atas trotoar. Krincing... krinciiing... Gemerincingnya membuat banyak orang menoleh. Beberapa orang bahkan sempat berhenti dan hendak memungutnya, sebelum mereka tahu ternyata ada yang memiliki uang itu. Cak Ri memungutnya kembali.

"Kau dengar sendiri kan? Bahkan suara uang itu tidak lebih keras daripada suara jangkrik kita tadi. Meski begitu, teman-teman kotamu toh bisa mendengarnya dan menoleh, malah ada yg mau ngambil. Sedangkan jangkrik yg suaranya lebih keras tadi, kalian tidak ada yg mendengarnya, hanya aku.”

”Iya juga ya...” kata Henri mulai mengerti tetapi masih belum paham, ”tapi, kok bisa gitu ya, Cak...??”

”Hehehe....” gantian Cak Ri yg tertawa, ”Alasan satu-satunya adalah: kamu, aku, dan semua orang di dunia ini selalu bisa mendengar lebih baik hal-hal yang biasanya menjadi perhatian kita, hal-hal yang kita cintai atau senangi, yang menjadi fokus kita."

"Bagiku," lanjut Cak Ri,"bunyi jangkrik itu adalah salah satu bunyi pelepas lelah saat kami pulang dari kebun atau dari sawah, bunyi yg mengiringi istriku membacakan cerita pengantar tidur buat anak-anak, bunyi yang menemani aku minum teh hangat pada malam hari. Bunyi sebuah nyanyian yang mengiringi malam-malam kami melepas lelah dan ketika kami bersujud syukur kepada Tuhan atas hidup yang begitu indah ini..."

”Aku ngerti, Cak...” kata Henri, ”orang-orang kota, kebanyakan yang mereka pikirkan adalah uang, jadi bunyinya pun mudah menarik perhatian mereka...”

”Kau sendiri yang mengatakannya... walaupun tidak selalu dan tidak semuanya begitu...” jawab Cak Ri singkat.

Mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah kedai dan menikmati kopi hangat sore itu.

---ooOoo---


Naah... kawan-kawan yang berbahagia... coba ingat ketika kita sedang dalam masalah, kemudian kita berdoa kepada Tuhan, kadang kita sampai menangis mengiba-iba... jika perlu, kita makin rajin mendatangi-NYA di rumah-rumah ibadah... pendeknya, kita ‘caper’ banget, kita getol mencuri perhatian-NYA... Dan beberapa saat kemudian, kita kecewa... kita merasa: ”Tuhan kok diam saja ya... saya kok dicuekin ya... kok tetep gini-gini aja kenapa ya?”

Ayo kita renungkan... sebenarnya BUKAN karena Tuhan tidak menjawab, tapi karena kita seringkali hanya fokus pada diri kita sendiri, kita cuma mikirin permasalahan kita saja, kita kurang memusatkan hati secara tulus untuk meraih Cinta Kasih Tuhan dan Pertolongan-NYA...

Kita ’pasang telinga’ hanya untuk jawaban Tuhan yg sesuai keinginan kita saja... kita ’maksa’ Tuhan menjawab pake cara kita... Ketika DIA menjawab doa kita dengan cara lain -yang sesungguhnya adalah Cara Terbaik bagi kita-, kita menolaknya, bahkan kita tidak mau peka untuk ”mendengarkannya”... jadi, siapa yg sebenarnya cuek??

Bagaimana caranya agar kita mampu mendengarkan jawaban-NYA dengan lebih baik?
Sederhana saja: ”Mintalah petunjuk pada hatimu...”

Salam Sukses & Sejahtera...
Let’s Make a Better World...

(Ary WS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar