Senin, 14 Juni 2010

KEMULIAAN DAN KEBIJAKSANAAN


Suatu hari, seorang Pemuda duduk di bawah pohon di tepi sungai. Ketika sedang menenangkan pikiran, dia melihat seekor Kepiting yang sedang berpegang pada rerumputan dan alang-alang agar tidak terbawa arus sungai.

Si Pemuda merasa kasihan, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Kepiting agar keluar dari sungai. Si Kepiting menjepit jari si Pemuda. Klap...!! Jari si Pemuda terluka akibat jepitan keras si Kepiting. Namun si Pemuda tampak puas ketika Kepiting berhasil selamat.

Belum lama ketika si Pemuda duduk kembali, lagi-lagi si Kepiting terpeleset ke sungai dan sekali lagi berusaha keras menyelamatkan diri. Si Pemuda kembali menolong dan jarinya dicapit oleh Kepiting untuk kedua kalinya. Kejadian ini kemudian berulang ketiga kalinya hingga jari si Pemuda bukan lagi terluka, tetapi juga memar membengkak.

Seorang Pak Tua ternyata memperhatikan peristiwa itu sejak awal. Dia menghampiri si Pemuda.

"Hai, Nak… Perbuatanmu menolong makhluk Tuhan adalah cerminan Kasih Sayang dan Hati yang Mulia…” kata Pak Tua.

“Terima kasih, Paman…” jawab si Pemuda.

”Tapi, mengapa kau harus korbankan jarimu terluka seperti itu hanya untuk menolong seekor Kepiting?”

"Maaf, Paman... Kepiting hanya diberi capit yang tidak ada jari-jarinya untuk berpegangan. Sedangkan Tuhan memberi kita dua tangan yang lebih sempurna. Justru karena Kasih Sayang itulah, saya merelakan jari ini terluka agar bisa menolong makhluk yang lebih lemah, meski hanya seekor Kepiting," jawab si Pemuda dengan hati puas.

Pak Tua tersenyum mendengar jawaban si Pemuda. Dan ketika itu pula, untuk keempat kalinya si Kepiting kembali terpeleset dan berjuang melawan arus sungai. Si Pemuda tampak bersiap-siap menolong Kepiting itu. Namun Pak Tua mencegahnya, dan si Pemuda tampak heran.

Pak Tua memungut sebuah ranting yang panjang. Ia julurkan ranting itu ke arah si Kepiting. Segera saja si Kepiting menangkap ranting dengan capitnya, dan si Kepiting pun selamat untuk ke sekian kalinya. Pak Tua segera menjauhkannya dari tepi sungai.

"Lihat Anakku, menerapkan Kasih Sayang untuk menolong itu sungguh Mulia, namun alangkah indahnya jika Kemuliaan itu disertai dengan Kebijaksanaan. Tidak semua tujuan yang baik bagi makhluk lain berarti harus mengorbankan diri sendiri.

Tuhan telah membekali kita dengan Hati agar menjadi Mulia seperti Hatimu, namun Tuhan juga membekali kita Akal agar berpadu dengan Hati menjadi sebuah Kebijaksanaan yang Mulia. Ranting ini Tuhan sediakan agar kau bisa menolong makhluk-Nya tanpa harus mengorbankan jarimu...”

Si Pemuda tersadar dan kemudian tersenyum bahagia sekali.

"Terima kasih, Paman. Hari ini Tuhan telah mempertemukan saya dengan Paman untuk belajar satu Hikmah yang sangat berharga bahwa Perbuatan yang Baik akan menjadi lebih baik jika dilakukan dengan cara yang benar, yaitu cara yang Bijaksana, yang tidak merugikan siapapun...

PERBUATAN YANG MULIA MENJADI LEBIH INDAH BILA DISERTAI DENGAN KEBIJAKSANAAN.”

“Tepat sekali, Nak... namun seandainya kau tidak menemukan ranting ini, maka caramu tadi adalah cara yang paling Bijaksana... kau tetap harus menolongnya.”


Salam Mulia & Bijaksana,
Ary WS
www.ican-community.blogspot.com

Senin, 24 Mei 2010

GAGAL ITU BIASA... SIKAPNYA YANG HARUS LUAR BIASA!!


David J.Schwartz mengatakan: Adalah tidak mungkin untuk mencapai keberhasilan yang besar tanpa menjumpai perlawanan, kesukaran dan kemunduran. Akan tetapi adalah mungkin untuk menjalani hidup anda selebihnya tanpa Kekalahan.

Ketika saya mengutip kalimat di atas dan kemudian menulis artikel ini, saya benar-benar sedang berada di ’persimpangan jalan’ di mana saya harus membuat Keputusan yang tepat untuk SISA HIDUP saya, dan sangat besar kemungkinan bahwa Keputusan saya ini juga berpengaruh pada Sisa Hidup setiap anggota keluarga saya. Dalam format yang berbeda, saya yakin bahwa Anda pun sedang dihadapkan setidaknya pada satu masalah yang mengharuskan Anda untuk memutuskan Satu Pilihan yang Terbaik.

Fakta yang seharusnya membuat kita semua ”ngeri” adalah, bila kita tidak memutuskan untuk menentukan Pilihan dalam Hidup kita, maka pasti ada orang atau pihak lain yang akan memutuskannya untuk kita, dan pada saat itu kita sudah tidak bisa lagi menolaknya.

Sebelum Anda dan saya mengambil keputusan, ijinkan saya mengajak Anda ’berekreasi’ menemui 3 Kelompok orang. Sesungguhnya, tujuan saya adalah mengajak Anda dan khususnya diri saya sendiri untuk memilih dan memutuskan pada Kelompok manakah kita ingin dan seharusnya berada. Dengan cara yang sedikit berbeda, kita mulai dari Kelompok Ketiga, lalu Kelompok Kedua, dan barulah Kelompok Pertama.

Inilah kelompok ketiga yang kita kunjungi.
Lihatlah, mereka berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang pendidikannya rendah dan ada juga yang sangat tinggi. Ada yang masih jomblo, ada yang sedang merencanakan pernikahan, ada yang sudah menikah, dan ada juga yang sudah bercerai. Ada yang berasal dari keluarga miskin, menengah, maupun kaya. Juga, mereka berasal dari berbagai daerah, ada yang dari pedalaman, ada yang dari desa, dan ada yang dari kota.

Namun, semua orang di kelompok ketiga ini sesungguhnya mempunyai satu kesamaan. Mari kita dengarkan hal-hal seperti apa yang mereka katakan tentang kondisi hidupnya:
”Perusahaan ini penyebab kesialan saya. Seharusnya saya bekerja pada perusahaan yang lebih bagus daripada yang sekarang.”
”Saya adalah korban dari perekonomian yang buruk, bisnis saya hancur dan saya tidak menemukan jalan lagi untuk menyelamatkannya, terpaksa inilah yang saya lakukan sebisanya.”
”Seandainya orang-orang itu tidak menipu saya, pastilah saya tidak seperti ini.”
”Kalau saja dia tidak menyakiti saya, pasti saya lebih bahagia daripada sekarang. Gara-gara dia, hancurlah hidup saya. Dia bertanggung-jawab atas semua ini.”
”Atasan saya begitu bodoh, bagaimana saya bisa memperbaiki karir saya?”

...dan berjuta-juta ungkapan lain, yang pada intinya adalah sama, yaitu:
1. mereka merasa kalah, tapi tidak mau mengakuinya, karena itu
2. mereka selalu menemukan orang atau pihak lain yang –menurut mereka- menjadi penyebab kekalahan yang mereka alami, dan
3. mereka memilih untuk tetap berada pada kondisi yang ’kalah’,

Tapi mereka bersemangat sekali...! O ya... tidak diragukan, mereka sangat bersemangat...! Bersemangat untuk menceritakan kepada orang lain tentang siapa-siapa atau apa-apa saja yang menghancurkan mereka. Pendeknya, cerita paling seru di kelompok ketiga adalah cerita mengenai kekalahan mereka.

Hmm... kedengarannya sangat mengerikan sekali...

Baiklah, mari kita berjalan lagi menuju Kelompok Kedua. Coba kita lihat, ternyata latar belakang kelompok kedua ini juga beraneka ragam seperti pada kelompok sebelumnya. Ayo kita dengarkan bagaimana mereka bercerita tentang hidupnya:
”Perusahaan ini lumayan bagus, tapi kemampuan saya sudah maksimal, saya jalani saja.”
”Saya tahu ada banyak peluang di kondisi ekonomi seperti ini, tapi saya tidak berani mengambil resiko seperti si A atau si B. Walaupun berat, saya tetap seperti ini saja.”
”Saya memang bodoh hingga mereka menipu saya, ini salah saya, karena itu saya lebih baik tidak mencoba hal-hal semacam itu lagi.”
”Dia memang menyakiti saya, namun biarlah saya sendiri yang menanggungnya, saya berusaha bahagia meskipun sendiri.”
”Bukan salah atasan saya, tapi saya memang sudah tidak mungkin lagi memperbaiki karir saya.”

Perbedaannya dengan kelompok sebelumnya adalah, orang-orang di Kelompok Kedua ini menyikapi kekalahan dengan cara yang lebih terhormat dan bisa diterima lebih baik oleh sebagian besar masyarakat, yaitu:
1. mereka juga merasa kalah, namun tidak secara total kekalahan itu menguasai dirinya
2. mereka menerima kekalahan itu sebagai ulahnya sendiri, sehingga secara terhormat mereka pun tidak serta-merta menuding pihak lain sebagai penyebab kekalahan yang mereka alami, dan
3. mereka mencoba mencari tempat yang menurut mereka aman... tidak lebih!

Sepertinya kondisi-kondisi yang memang aman-aman saja... meskipun sesungguhnya bukanlah kondisi-kondisi yang mereka inginkan. Bukan begitu?

Nah... mari kita mengakhiri ’tour’ kita ini di Kelompok Pertama, yang ternyata tidak banyak orangnya. Sangat sedikit. Namun, begitu kita datang, mereka menyambut kita dengan senyuman, mereka menyambut kita dengan tatap mata berbinar dan jabat tangan yang erat. Sebelum mereka mengatakan sesuatu tentang diri mereka, kita bisa tahu bahwa mereka sedang berbahagia, mereka sedang menikmati kehidupannya, mereka benar-benar ’hidup’ dalam kehidupannya.

Padahal... woow... ternyata latar belakang mereka juga sama saja dengan dua kelompok sebelumnya, dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi. Mari kita dengarkan bagaimana sebenarnya cerita-cerita mereka tentang hidupnya:
”Perusahaan ini sangat bagus, saya bangga bekerja di sini. Namun karena visinya tidak sejalan dengan visi pribadi saya, maka saya putuskan untuk berganti karir. Saya berani dan saya bisa.”
”Saya tahu ada banyak peluang di kondisi ekonomi seperti ini, karena itulah saya harus memanfaatkannya agar bisa sukses seperti si A atau si B. Walaupun berat, saya akan hadapi resikonya. Kalau mereka bisa, saya pasti juga bisa.”
”Orang bilang mereka menipu saya, tapi sesungguhnya yang terjadi adalah Tuhan mengirim mereka untuk memberi saya pelajaran yang sangat berharga agar bisa meraih Keberhasilan lebih besar. Saya bisa.”
”Dia memang menyakiti saya, dan mungkin sekali itu adalah salah saya karena tidak bisa membuatnya bahagia. Saya harus memperbaiki kesalahan saya dalam hubungan. Dan Kebahagiaan saya adalah saya sendiri yang menentukannya.”
”Oo tidak... sama sekali bukan salah atasan saya, saya sendiri yang harus meningkatkan kompetensi dan saya sendiri yang akan menentukan karir saya. Saya akan lakukan itu dan saya yakin saya bisa.”

Sementara orang-orang di kelompok ketiga terpukul jatuh, dan kemudian sibuk mencaci-maki orang lain atas kejatuhannya, lalu memutuskan untuk tetap terkapar sambil meng’aduh-aduh’ di tempat mereka terjatuh... dan membiarkan dirinya terus-menerus ’terpukul’... dan semakin terpukul...

Dan sementara itu pula orang-orang di kelompok kedua juga terpukul jatuh, kemudian sibuk menghakimi dirinya sendiri, namun mereka terseok-seok merangkak menjauh, ’ngacir’ ke arah di mana mereka yakin tidak akan terpukul lagi, dan memutuskan untuk tetap berada di situ saja... Tanpa mereka sadari, ancaman yang sama sangat mungkin datang kembali, hingga lagi-lagi mereka terpukul jatuh... Sangat dikuatirkan, mereka bisa masuk dalam kelompok ketiga.

Pada saat dan kondisi yang bisa jadi sama, orang-orang Kelompok Pertama menyikapi kekalahan dengan cara yang sesungguhnya PALING Terhormat meskipun terkadang sulit diterima oleh sebagian masyarakat, bahkan oleh orang-orang terdekat mereka sendiri.

Kelompok Pertama adalah Kelompok dengan SIKAP PEMENANG:
1. Mereka mengakui kekalahan, namun berani mengambil TANGGUNG-JAWAB untuk menguasai kekalahan
2. Mereka secara terhormat menerima kekalahan itu MURNI sebagai ulahnya sendiri sehingga mereka secara terbuka BERTEKAD untuk selalu melakukan yang Lebih Baik, dan
3. Mereka selalu BANGKIT minimal SATU KALI LEBIH BANYAK dibandingkan mereka terjatuh, dan BERKOMITMEN untuk terus maju menuju Visi Hidup yang telah ditetapkannya.

Orang-orang di Kelompok Pemenang memiliki penghalang namun memutuskan untuk mengatasinya dan bukan mengeluhkannya. Mereka juga diserang oleh penolakan, perlawanan, sikap antipati yang mengecilkan hati, kemunduran, dan berbagai pukulan yang menyakitkan, namun mereka memutuskan untuk menyikapinya sebagai Proses Belajar atau Berlatih menuju Keberhasilan yang Lebih Besar. Mereka memiliki alasan yang sama banyaknya untuk menyerah pada kemunduran atau keterpukulan, namun mereka memiliki Respon Paling Terhormat atau Respon Positif terhadap Kegagalan: Bahwa Kegagalan bukanlah alasan untuk mengasihani diri dalam kekalahan, namun Kegagalan adalah satu-satunya alasan bagi mereka untuk Bangkit kembali dan Berhasil...

Nah... bagaimana dengan Anda?
Pada Kelompok manakah Anda memutuskan untuk meletakkan Diri Anda?

INGAT: bila kita tidak memutuskan untuk menentukan Pilihan dalam Hidup kita, maka pasti ada orang atau pihak lain yang akan memutuskannya untuk kita, dan pada saat itu kita sudah tidak bisa lagi menolaknya.

Artikel ini saya tulis karena saya yakin KITA BISA bersikap PEMENANG atas segala permasalahan yang kita hadapi... dan KITA BISA meraih yang Lebih Baik untuk Kehidupan kita dan untuk orang-orang yang ada di dalam Kehidupan kita...

(Ary WS)

MULAILAH MENGGELINDINGKAN BATU-BATU KARANG YANG KECIL


Inspirasi untuk mengatasi Masalah-Masalah Besar dalam Hidup Anda


Eunice Chew adalah seorang wanita Sukses. Secara finansial, Beliau memiliki penghasilan besar dari merawat orang-orang kaya di Singapura. Ibu Chew juga mengelola sebuah bisnis mega-profit di bidang Herbal Tradisional Tiongkok. Selain itu, wanita yang dinobatkan sebagai Finalis Wanita Teladan Singapura 2005 pada usia 52 tahun ini juga aktif sebagai sukarelawan yang memberikan konsultasi dan pendampingan gratis bagi kaum wanita korban ketidak-setiaan pasangan hidup, dan juga bagi orang-orang yang telah lama menderita sakit tak tersembuhkan.

Eunice Chew menjadi Seorang yang Besar ternyata bukan karena kondisi-kondisi besar atau kondisi yang menguntungkan dirinya untuk menjadi besar. Beliau menjadi seorang yang besar adalah karena Beliau MEMILIH DIRINYA untuk menjadi Besar di tengah-tengah kondisi-kondisi kecil atau kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan, di mana kebanyakan orang akan menyerah dalam kondisi-kondisi tersebut.

Mari kita simak sekilas kisah hidup Eunice Chew…

Chew kecil diangkat anak oleh Keluarga kaya raya Teochew yang ingin memiliki anak perempuan. Masa kanak-kanak Chew kecil dikelilingi kemewahan layaknya anak orang kaya. Namun di sisi lain, Pasangan Teochew memiliki gaya hidup kuno yang tidak mengenal sentuhan, pelukan dan ciuman untuk anak-anak mereka dalam mengungkapkan kasih sayang. Chew kecil tumbuh menjadi wanita yang selalu mendambakan kasih sayang.

Usia 17 tahun, Chew muda menikah dengan seorang pegawai transportasi, dan berharap mendapatkan kasih sayang dari pria itu. Singkat cerita, harapan itu adalah harapan kosong. Sang suami ternyata adalah pria yang suka menyiksa istri. Perkawinan itu hanya bertahan lima tahun, dan Chew muda sudah dikaruniai dua orang anak.

Tidak lama setelah Chew bercerai, ayah angkatnya wafat karena sakit. Pembagian warisan menimbulkan pertikaian sengit dalam keluarga besar Teochew. Akhirnya Chew yang hanya anak angkat harus rela tidak kebagian apa-apa. Lebih parah lagi, saudara-saudaranya, anak kandung Keluarga Teochew sendiri, membebani Chew untuk mengurusi ibu mereka yang sudah buta dan lumpuh. Chew hidup bersama kedua anak dan ibu angkatnya dalam keadaan sangat miskin.

Chew berjualan susu coklat untuk menyambung hidup. Itulah pengalaman pertamanya mencari uang. Setiap malam selesai berjualan, Chew menangis karena dia sama sekali tidak mengerti bagaimana harus menjalankan usaha, bahkan usaha sekecil itu. Chew harus bisa memberi makan ibunya yang mulai sakit-sakitan dan kedua anaknya.

Kepedihan ini mereka jalani selama 2 tahun. Kemudian Chew berganti pekerjaan menjadi koki. Kondisinya pun sama saja. Sekitar dua tahun juga, Chew berganti lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia menumpang kendaraan umum dengan menggendong 3-4 kantong besar berisi baju dagangannya. Saat bersamaan, ia melakukan pekerjaan lain sebagai makelar rumah dan mobil bekas. Sebagai tambahan pula, setiap malam Chew mendesain beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen di Jepang. Meskipun hampir tidak pernah beristirahat sepanjang hari, pendapatannya mulai lumayan. Namun akhir tahun 70-an, pasar tekstil melemah, pekerjaannya menjual pakaian dan mendesain kain pun lenyap.

Chew terpaksa beralih menjadi pelayan restoran. Karena etos kerjanya yang bagus, beberapa saat kemudian dia diangkat menjadi pimpinan pelayan dan akhirnya menjadi manajer untuk bidang entertainment di restoran tersebut. Sementara menekuni pekerjaan itu, Chew tetap menjalani pekerjaan sambilannya sebagai makelar rumah dan mobil.

Alhasil, Chew berhasil mengumpulkan modal untuk mendirikan bisnis sendiri dalam pembuatan asesoris fashion. Namun, kondisi buruk masih menimpanya, dua orang asisten yang dipercaya ternyata kabur bersama semua aset perusahaan. Peristiwa itu terjadi justru di saat Chew sangat membutuhkan uang karena ibunya berkali-kali harus keluar-masuk rumah sakit. Hidupnya yang tadinya mulai tertata mapan, harus dia bangun kembali dari NOL.

Sempat terlintas di benak Chew untuk bunuh diri, namun Tuhan masih mengetuk hati Chew dengan kasih sayangnya pada anak-anak dan juga Ibunya. Chew bangkit, dan memulai lagi usahanya dari awal dengan pinjaman modal dari beberapa sahabat yang bersimpati padanya. Sampai pada akhirnya, Eunice Chew meraih semua keberhasilannya.

Inilah cuplikan pidato Ibu Chew yang dikutip oleh Majalah The Strait Times Singapura ketika Beliau menjadi Finalis Wanita Teladan Singapura:

"Hidup ini telah mengajarkan saya bahwa selalu ada JALAN KELUAR dari setiap KESULITAN. Tenangkan diri untuk mengatasi gejolak, dan melangkahlah setapak demi setapak. Gelindingkan saja batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, hingga akhirnya Anda pasti memiliki kekuatan untuk mendorong batu-batu karang yang besar.”

"Pertimbangkanlah selalu perasaan orang lain terlebih dahulu, BUKANNYA perasaan Anda sendiri. Berusahalah selalu menjadi PIHAK PERTAMA yang memberikan Cinta & Perhatian pada orang lain, dan berhentilah menuntut orang lain memberikannya terlebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk keluar dari kegelapan hidup.”

Ibu Eunice Chew juga memberi saran bagi mereka yang menghadapi kesulitan:
1. Tulislah Daftar Kesulitan yang Anda hadapi itu di atas kertas.
2. Bacalah Daftar Kesulitan Anda
3. Tanyakan pada diri sendiri: ”Apa hal terkecil yang saya BISA lakukan HARI INI untuk mengatasi kesulitan itu?”
4. MULAILAH melakukan hal-hal kecil itu sebagai KOMITMEN...

Gelindingkan saja batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, hingga akhirnya Anda pasti memiliki kekuatan untuk mendorong batu-batu karang yang besar

(Ary WS)

MENGHINDARI GAGAL SEHARUSNYA MUDAH, KARENA HANYA ADA 2 JENIS GAGAL


HANYA ADA 2 JENIS GAGAL, dan PASTIKAN itu BUKAN KITA.

Selalu ada banyak alasan untuk menjadi gagal, karena sejak jaman dulu, yang namanya gagal memang 100% identik dengan banyak alasan. Namun secara garis besar, hanya ada 2 kategori orang gagal atau aksi penyebab kegagalan, yaitu:
1. Those who THOUGHT but never DID, dan
2. Those who DID but never THOUGHT
Silahkan dipikirkan terlebih dulu maknanya…

Oke, sekarang mari kita sama-sama pelajari satu per satu secara singkat saja.

THOUGHT BUT NEVER DID… MEMIKIRKAN TANPA MELAKUKAN
Pendeknya, ini adalah perilaku “panjang angan-angan”. Memiliki Cita-cita besar, bahkan mungkin kepandaiannya juga di atas rata-rata, wawasan dan pengetahuannya sangat luas, konsepnya tentang masa depan sangat menakjubkan, kata-katanya pun mantap, tetapi hampir bisa dipastikan tidak pernah melakukan Aksi-Nyata untuk meraih Cita-cita yang selalu di”kampanye”kan.
Bagaimana bisa masuk kategori ini? Oke, kita sebutkan beberapa penyebabnya, tetapi berjanjilah untuk menghindarinya… yaitu:
1. Procrastination; mereka suka menunda hal-hal yg seharusnya di-Prioritas-kan
2. Mereka tidak memiliki Time-Management
3. Mereka selalu menunggu “saat yang sempurna” untuk memulai aksi-nya; mereka lupa bahwa Keberhasilan justru terjadi ketika kita bisa mengatasi kondisi-kondisi yang tidak sempurna
4. Ada sebagian, kalau tidak keseluruhan, dari “Success Blue-Print” atau “Keyakinan tentang Sukses” dalam diri mereka yang masih harus dibenahi yang menyebabkan kurang atau bahkan tidak adanya keyakinan bahwa dirinya BISA
5. Faktor Kesombongan Diri, biasanya diwujudkan dengan sikap merasa lebih baik dari orang lain, sehingga tidak terlalu membutuhkan orang lain untuk mencapai keberhasilannya; merasa bahwa ide-ide yang diberikan orang lain tidak berguna karena mereka memiliki ide-ide yang lebih bagus.

DID BUT NEVER THOUGHT… MELAKUKAN TANPA MEMIKIRKAN
Naah… tipe ini nih yang kayaknya paling banyak terjadi. Mereka bekerja keras setiap hari, melakukan berbagai kesibukan, sambil berharap sebuah “keajaiban” akan datang secara tiba-tiba dalam hidupnya. Ketika diajak bicara soal cita-cita atau rencana yang konkrit untuk masa depan, jawabnya: ”Wis to, gak perlu rencana muluk-muluk, yang penting saya punya cita-cita pingin ini-itu, dan saya harus bekerja.”

Banyak orang pergi bekerja setiap hari, berangkat pagi, pulang hingga sore atau bahkan malam, jika perlu menghibur diri terlebih dulu, dan baru kemudian tidur. Besoknya, begitu lagi, dan begitu lagi besoknya… hingga akhir pekan mereka bersantai bersama keluarga, lalu pekan depannya memulai lagi siklusnya. Tanpa terasa, 1 tahun berlalu, 2 tahun terlewati, 5 tahun, 10 tahun, 15 atau 20 tahun pun terlampaui, dan tiba-tiba mereka sudah berada di “masa depan” sambil bertanya-tanya: “Kok gini-gini aja ya…? Mana nih cita-citaku? Kan aku sudah kerja keras setiap hari…?”

Yang lebih parah lagi, mereka mulai menyalahkan pihak lain: “Sial! Pemerintah gak becus ngatur perekonomian, makanya gajiku naik tapi tetep aja gak cukup.” Atau “Sekian tahun aku tertipu, aku sudah loyal, tapi perusahaan tidak pernah menghargai lebih.” Dan yang paling parah adalah mereka yang mulai menyalahkan Tuhan.

Orang gagal tipe ini bisa diibaratkan seperti Penebang Pohon yang tidak pernah mengasah gergajinya. Masih ingat ceritanya? Ada 2 orang Penebang Pohon. Si A, bukan ahli dalam menebang, sedangkan si B dikenal sangat ahli. Ketika diminta menebang sebanyak-banyaknya pohon mulai pagi sampai sore, ternyata justru si A menebang lebih banyak dibanding si B. Si B yang merasa dirinya ahli dan memiliki teknik menebang terbaik sangat heran: “Hai A, maafkan aku, aku lihat caramu menebang tidak sebaik aku. Selain itu, kamu lebih banyak istirahat dibandingkan aku. Bagaimana bisa kamu menebang lebih banyak dengan energi yang lebih sedikit?” Si A hanya menjawab: “Ketika aku beristirahat, aku bersantai sambil mengasah gergajiku, maka gergajiku hampir tidak pernah tumpul. Dan akupun bersantai sambil mengamati caramu menebang, maka kemampuanku pun bertambah.”

Karena itulah dikatakan, bekerja keras saja tidak cukup, kita juga harus bekerja pintar. Memang, ACTION adalah rangkuman dari semua cara untuk Sukses yang pernah diajarkan di muka bumi ini. Namun, ACTION yang dimaksudkan ada dua, yaitu: Plan and Work, Merencanakan dan Mengerjakan.

Rencana itu sendiri harus mencakup:
1. Menetapkan Goal atau Tujuan secara jelas dan terperinci
2. Menetapkan Langkah-Langkah yang harus ditempuh
3. Melengkapi diri dengan kompetensi yang dibutuhkan
4. Melakukan Evaluasi

Sebagai kesimpulan dari catatan di atas:
Satu-satunya Cara Jitu agar kita tidak termasuk 2 kategori orang gagal di atas, adalah:
Plan your Work and Work your Plan... Rencanakan Kerjamu dan Kerjakan Rencanamu...

Pasti bermanfaat untuk kita terapkan mulai saat ini juga... dan kemudian jadikan bermanfaat pula untuk lebih banyak orang.
Salam Bahagia & Sukses selalu...

(Ary Wiryosaputro)

Sabtu, 22 Mei 2010

Dijual: PASANGAN HIDUP YANG SEMPURNA... di Lantai 6


Memahami Hakikat Kesempurnaan sebagai Pasangan

Saudara-Saudaraku yang berbahagia, sesungguhnya setiap Nikmat yang Tuhan berikan kepada kita adalah sebuah Amanah yang harus kita tunaikan dengan cara mensyukurinya. Dan mensyukuri Nikmat Tuhan, selain dengan pujian terbaik yang kita ucapkan untuk-NYA, yang lebih utama adalah dengan memanfaatkan Nikmat itu untuk kepentingan-kepentingan yang mendukung Kebaikan bagi diri sendiri dan juga mendukung Kebaikan bagi lebih banyak orang lain. Dengan demikian, Tuhan pun memiliki alasan untuk menambahkan lebih banyak lagi Nikmat-NYA kepada kita.

Kesempurnaan... bukan ketika kita bisa mengumpulkan beragam Kebaikan di dalam diri kita. Kesempurnaan... lebih ditentukan ketika kita bisa memberdayakan setidaknya satu Kebaikan yang kita miliki untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi Kehidupan.

Demikian pula, ketika kita mengharapkan kesempurnaan dari orang lain —entah itu kawan, tetangga, teman sekantor, atasan, bawahan, keluarga, anak-anak kita, ataupun Pasangan Hidup kita— kuranglah adil kalau kita hanya menuntut mereka memiliki berbagai macam Kebaikan di dalam dirinya. Alangkah lebih adil dan bijaksana, jika kita mensyukuri Kebaikan yang telah mereka miliki dengan cara mendukung mereka untuk memberdayakan Kebaikan itu agar membawa manfaat sebesar-besarnya bagi semuanya.

Ijinkan kami mendedikasikan cerita berikut ini bagi Anda yang saat ini sedang menjalani sebuah proses pencarian Pasangan Hidup atau berencana untuk menjadikan seseorang sebagai Pasangan Hidup. Lebih dari itu, kami juga berharap cerita ini bisa memberi inspirasi bagi kita yang telah memiliki Pasangan Hidup, agar kita tidak sekedar menuntut lebih banyak Kebaikan dari Pasangan Hidup kita, tetapi lebih berfokus pada mendukung pemberdayaan Kebaikan-Kebaikan yang telah mereka miliki.

Sebagai catatan, kisah ini hanyalah sekedar penggambaran yang inspiratif, bukanlah kisah nyata.

-------------------- o o o O o o o --------------------

Ini adalah sebuah toko yang sangat unik. Di sini kita bisa memilih dan membeli Pasangan Hidup. Toko Pasangan Hidup. Wanita bisa beli suami, dan Pria bisa beli istri. Untuk memberi pelayanan berupa keleluasaan memilah dan memilih, telah disiapkan 6 Lantai. Setiap kelompok Calon Pasangan Hidup dengan kategori tertentu dikumpulkan dalam satu Lantai.

Setiap pelanggan disambut oleh resepsionis dan kemudian diberikan instruksi-instruksi berupa Aturan Main yang wajib ditaati. Begini bunyinya:
1. Pelanggan adalah mereka yang BELUM memiliki Pasangan Hidup
2. Setiap Pelanggan hanya diperbolehkan mengunjungi toko ini SATU KALI seumur hidup!
Percayalah, toko ini mempunyai cara terbaik di dunia untuk mendeteksi kedatangan Anda yang kedua kalinya atau lebih, karena itu manfaatkanlah baik-baik Kunjungan Anda ini
3. Setiap Pelanggan hanya diperkenankan membeli SATU Pasangan Hidup saja
4. Jika Anda memutuskan untuk naik ke Lantai berikutnya, maka Anda sama sekali TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK TURUN KEMBALI, kecuali melalui Jalur Khusus yang langsung menuju Pintu Keluar

Suatu hari, seorang wanita datang ke toko itu, tentu saja untuk mencari suami. Setelah diterangkan oleh resepsionis, wanita ini pun mulai “browsing”. Dia memasuki Lantai Satu dan mendapati sebuah banner dengan tulisan:

”Lantai 1 – BAIK: Calon Suami yang memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan”

Wanita itu tersenyum, “Hmm… baik, tapi biasa saja…” pikirnya, kemudian naik ke lantai selanjutnya, dan melihat banner lagi bertuliskan:

“Lantai 2 – BAIK JUGA: Calon Suami yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan sayang anak.”

“Hmm… boleh juga” pikir wanita itu. Tetapi, mulai timbul penasaran, wanita itu memutuskan naik ke lantai selanjutnya dengan banner:

”Lantai 3 – JUGA BAIK : Calon Suami yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak dan juga tampan.”

”Woww… tampan? Ini sih lebih baik! Kenapa dibilang Juga Baik,” pikirnya. ”Ada tambahan apa lagi di lantai ke-empat ya...?” dia makin penasaran dan terus naik ke Lantai 4.

Bannernya bertuliskan: “Lantai 4 - SAMA BAIKNYA: Calon Suami yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak, tampan dan menyukai pekerjaan rumah.”

“Ya ampun!” wanita itu berseru, “kenapa dikatakan sama baiknya?? Bukankah ini semakin baik??” Dan terus makin penasaran, dia tidak juga berhenti, melanjutkan ke lantai 5.

Bannar Lantai 5 begini: “Lantai 5 - TEPAT: Ini Calon Suami yang Tepat untuk Anda! Para pria di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak, tampan, menyukai pekerjaan rumah, dan sangat romantis.”

”This is perfect!” Pikirnya, dan dia pun memanggil pramuniaga, meminta agar dibantu memilih satu dari beberapa Calon Suami di Lantai 5. Tapi......... setelah melihat beberapa pria, wanita itu tampak mikir lagi, ”Hmm… kan masih ada Lantai 6, kenapa harus berhenti di sini? Pastinya Lantai 6 akan lebih baik lagi daripada yang di Lantai 1 sampai 5 ini…”

Wanita itu bertanya pada pramuniaga, ”Mbak, apa nama untuk Lantai 6?”
”Lantai 6 adalah Lantai SEMPURNA,” jawab pramuniaga. ”Anda yakin tidak jadi memilih di Lantai 5?”
”Naah... tepat dugaanku!” wanita itu berseru, ”Maaf, Mbak, tidak jadi. Saya ke Lantai 6 saja deh. Aduuh… seperti apa ya? Oh my God, pasti jodohku ada di atas.” Wanita itu pun melangkah mantap menuju Lantai 6,

Sesampai di sana, tidak lagi dijumpai banner, tapi ada 2 layar monitor. Monitor pertama yang menyambutnya bertuliskan:

”Selamat Datang di Lantai SEMPURNA”.

Wanita itu pun makin tersenyum kegirangan, siap menemui seorang Pria Sempurna idamannya. Dengan penuh semangat dia berjalan lagi, dan tak jauh kemudian ketemu dengan Monitor kedua yang menampilkan tulisan:

”Selamat! Anda adalah pengunjung kami ke 43,829,641 sejak kami buka. Mohon maaf, kami tidak pernah memiliki stock Pasangan Hidup di Lantai ini karena kami tidak pernah berhasil menemukan seseorang yang SEMPURNA.”

Sesuai aturan main, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Turun dari Lantai 6 dengan expresi wajah sangat kecewa, wanita itu diberi secarik kertas oleh pramuniaga di pintu keluar yang bertuliskan :

”Lantai 6... maaf jika kami harus mengatakan hal ini. Pintu Keluar di lantai 6 adalah sebagai bukti bahwa banyak sekali manusia tidak pernah bersyukur dengan apa yang sebenarnya Tuhan persiapkan sebagai Anugerah bagi dirinya. Mereka bahkan menolak meskipun sudah bisa melihat banyak kebaikan padanya...

Kesempurnaan Pasangan Hidup Anda bukanlah diukur semata-mata dari Kebaikan yang mereka miliki, tetapi juga diukur dari bagaimana cara Anda melengkapi hidup mereka dengan Kebaikan yang Anda miliki. Untuk itulah Anda Berdua disebut sebagai Pasangan.

Terima kasih telah mengunjungi toko Pasangan Hidup. Tetaplah tersenyum bahagia karena setidaknya Anda telah mendapatkan sebuah Pelajaran Berharga hari ini.”

------------------ oooOooo -------------

Sahabat dan Keluarga Indonesia, semoga cerita ini, walaupun hanya sekedar fiktif, bisa memberi kita Pencerahan yang membuat kita lebih mensyukuri Pasangan Hidup ataupun Calon Pasangan Hidup kita.

Agar lebih meresap ke dalam hati dan kita jadikan salah satu Nilai Kebaikan dalam Kehidupan kita, marilah kita baca sekali lagi bagian terpenting dari tulisan ini, yaitu:

Kesempurnaan Pasangan Hidup Anda bukanlah diukur semata-mata dari Kebaikan yang mereka miliki, tetapi juga diukur dari bagaimana cara Anda melengkapi hidup mereka dengan Kebaikan yang Anda miliki. Untuk itulah Anda Berdua disebut sebagai Pasangan.

Sampaikan salam saya untuk Pasangan Hidup Anda, dan hari ini juga ketika Anda bertemu dengan Beliau, katakan, atau setidaknya tunjukkan melalui sikap yang bisa terbaca dengan jelas olehnya bahwa Anda sangat bersyukur kepada Tuhan karena memiliki Beliau sebagai Pasangan Hidup Anda.

(Ary Wiryosaputro)

Jumat, 21 Mei 2010

LEBIH PEKA TERHADAP CARA TUHAN MENJAWAB DOA KITA...


MANA YG LEBIH KITA DENGARKAN: ”Uang Logam” ATAU ”Jangkrik”?

Cak Ri, wong ndeso yg lugu, suatu hari berkunjung ke Henri, saudaranya di kota. Sore itu, mereka berjalan-jalan menyusuri trotoar di tengah hiruk-pikuk & kebisingan kota.

"Henri,” kata Cak Ri tiba-tiba berhenti dan menahan langkah saudaranya, ”Apa kamu dengar suara itu?"

Henri menoleh ke Cacak sepupunya dengan heran. Cacak adalah panggilan untuk kakak laki-laki dlm bahasa Jawa. ”Maksud Cak Ri, klakson bis yg barusan lewat itu? Ya, tentu aku dengar. Ada yg aneh?" tanya Henri.

"Bukan itu,” jawab Cak Ri, ”Ada jangkrik! Aku dengar ada jangkrik lagi nyanyi di sekitar sini."

"Hahaha...” Henri tertawa,”Aneh2 aja sampean, Cak. Kangen kampung nih... Mana ada jangkrik di sini? Kalaupun ada, gimana orang bisa dengar suara jangkrik di tengah suara bising begini?"

"Tidak.. tidak..!” sela Cak Ri, ”Aku yakin ada bunyi jangkrik di dekat sini... Nah... itu... sekarang dia bunyi lagi..."

Cak Ri menepi, mendekati sekerumunan tanaman. Wong Ndeso itu menjulurkan tangan dan memetik sebatang ranting, Henri makin heran dengan tingkah Cacak-nya itu. Cak Ri menunjukkan beberapa helai daun kepada Henri. Dan ada seekor jangkrik sedang berderik di atasnya.

”Naaah.... kau dengar kan sekarang?” tanya Cak Ri sambil tersenyum. Henri mengangguk takjub.

”Waooww... hebat sampean, Cak!” puji Henri, "Ternyata Cak Ri punya pendengaran lebih tajam daripada kupingnya orang-orang kota..."

Cak Ri tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala, "Nggak... Aku nggak setuju kamu bilang begitu. Wong Ndeso belum tentu kupingnya lebih tajam daripada orang kota."

”Buktinya Cak Ri bisa denger jangkrik bunyi di sela-sela situ,” kata Henri, ”sedangkan aku & orang2 yg lalu lalang dari tadi nggak ada yg dengar...”

”Yo wis, ayo kita buktikan,” kata Cak Ri sambil mengeluarkan uang dari kantong, ”Lihat uang logam ini ya...”

Henri mengangguk namun tidak mengerti apa maksudnya. Belum sempat dia bertanya, Cak Ri menjatuhkan uang logam itu ke atas trotoar. Krincing... krinciiing... Gemerincingnya membuat banyak orang menoleh. Beberapa orang bahkan sempat berhenti dan hendak memungutnya, sebelum mereka tahu ternyata ada yang memiliki uang itu. Cak Ri memungutnya kembali.

"Kau dengar sendiri kan? Bahkan suara uang itu tidak lebih keras daripada suara jangkrik kita tadi. Meski begitu, teman-teman kotamu toh bisa mendengarnya dan menoleh, malah ada yg mau ngambil. Sedangkan jangkrik yg suaranya lebih keras tadi, kalian tidak ada yg mendengarnya, hanya aku.”

”Iya juga ya...” kata Henri mulai mengerti tetapi masih belum paham, ”tapi, kok bisa gitu ya, Cak...??”

”Hehehe....” gantian Cak Ri yg tertawa, ”Alasan satu-satunya adalah: kamu, aku, dan semua orang di dunia ini selalu bisa mendengar lebih baik hal-hal yang biasanya menjadi perhatian kita, hal-hal yang kita cintai atau senangi, yang menjadi fokus kita."

"Bagiku," lanjut Cak Ri,"bunyi jangkrik itu adalah salah satu bunyi pelepas lelah saat kami pulang dari kebun atau dari sawah, bunyi yg mengiringi istriku membacakan cerita pengantar tidur buat anak-anak, bunyi yang menemani aku minum teh hangat pada malam hari. Bunyi sebuah nyanyian yang mengiringi malam-malam kami melepas lelah dan ketika kami bersujud syukur kepada Tuhan atas hidup yang begitu indah ini..."

”Aku ngerti, Cak...” kata Henri, ”orang-orang kota, kebanyakan yang mereka pikirkan adalah uang, jadi bunyinya pun mudah menarik perhatian mereka...”

”Kau sendiri yang mengatakannya... walaupun tidak selalu dan tidak semuanya begitu...” jawab Cak Ri singkat.

Mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah kedai dan menikmati kopi hangat sore itu.

---ooOoo---


Naah... kawan-kawan yang berbahagia... coba ingat ketika kita sedang dalam masalah, kemudian kita berdoa kepada Tuhan, kadang kita sampai menangis mengiba-iba... jika perlu, kita makin rajin mendatangi-NYA di rumah-rumah ibadah... pendeknya, kita ‘caper’ banget, kita getol mencuri perhatian-NYA... Dan beberapa saat kemudian, kita kecewa... kita merasa: ”Tuhan kok diam saja ya... saya kok dicuekin ya... kok tetep gini-gini aja kenapa ya?”

Ayo kita renungkan... sebenarnya BUKAN karena Tuhan tidak menjawab, tapi karena kita seringkali hanya fokus pada diri kita sendiri, kita cuma mikirin permasalahan kita saja, kita kurang memusatkan hati secara tulus untuk meraih Cinta Kasih Tuhan dan Pertolongan-NYA...

Kita ’pasang telinga’ hanya untuk jawaban Tuhan yg sesuai keinginan kita saja... kita ’maksa’ Tuhan menjawab pake cara kita... Ketika DIA menjawab doa kita dengan cara lain -yang sesungguhnya adalah Cara Terbaik bagi kita-, kita menolaknya, bahkan kita tidak mau peka untuk ”mendengarkannya”... jadi, siapa yg sebenarnya cuek??

Bagaimana caranya agar kita mampu mendengarkan jawaban-NYA dengan lebih baik?
Sederhana saja: ”Mintalah petunjuk pada hatimu...”

Salam Sukses & Sejahtera...
Let’s Make a Better World...

(Ary WS)

MENGAPA TUHAN "terkadang" MEMBUAT KITA TERDESAK & TERPURUK?


"Ya Tuhan, janganlah Engkau singkirkan bukit-bukit terjal yang menghalangi jalanku... namun berilah aku kaki yang kuat untuk mendaki dan melintasinya, sehingga aku bisa melihat lebih banyak lagi Pemandangan-PemandanganMU yang lebih indah dari atas sana..."

Keterbukaan hati untuk memahami Hikmah seringkali terjadi saat Keterdesakan atau Keterpurukan memaksa kita untuk memahaminya, tak lain agar kita segera terbebas dari Keterdesakan atau Keterpurukan itu.

Karenanya, dalam banyak hal, Keterdesakan atau Keterpurukan memang kita perlukan, agar semakin tajam Kepekaan Hati kita untuk mengambil lebih banyak Hikmah dari Kehidupan.

Demikianlah Rencana Terbaik dari Tuhan yang acapkali tidak kita pahami.

(Ary WS... disadur dari Syair Jalaluddin Rumi)

LAKUKAN --bila perlu, sekarang juga-- SELAGI ADA WAKTU


KISAH INI CUKUP SERING KITA DENGAR & DISAMPAIKAN DALAM BERBAGAI KESEMPATAN. MARILAH KITA ULANG SEKALI LAGI AGAR KITA SELALU INGAT BETAPA PENTINGNYA "Keseimbangan Hidup", KHUSUSNYA ANTARA PEKERJAAN DAN KELUARGA...

MANAKAH YANG SESUNGGUHNYA LEBIH KITA CINTAI? DAN MANAKAH YANG SEHARUSNYA MENDAPAT PERHATIAN UTAMA? TENTUNYA TANPA MENGESAMPINGKAN YANG LAINNYA...


John termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya yang menumpuk dan harus segera terselesaikan. Semuanya sia-sia belaka.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan Magy, putri kecilnya, pada suatu hari. Malam itu, 3 minggu sebelumnya, John seperti biasa membawa pulang tumpukan pekerjaannya.

Saat John sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, Magy kecil yang baru 2 tahun datang menghampiri dengan sebuah buku cerita baru kesayangannya. Buku cerita anak-anak bergambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, "Papa lihat buku Magy, Pa...”

John menengok kearah Magy dan berkata, "Wah, buku baru ya?"
"Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Papa bacain dong buat Magy..."
"Wah, Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang ya...", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Magy hanya berdiri terpaku disamping sang Ayah sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Mama bilang kalo Papa mau bacain cerita buat Magy...".

Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat sibuk. Magy minta Mama saja untuk membacakannya ya..."
"Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu."

"Lain kali Magy… sudah sana! Papa sedang banyak kerjaan nih..."
John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih memegang erat bukunya, dan dengan gaya manja anak-anak, sedikit menempelkan tubuh mungilnya di kaki sang Ayah. Lama sekali John mengacuhkan anaknya.

Tiba-tiba Magy mulai lagi "Papa liat donk, Pa… gambarnya bagus sekali dan ceritanya juga bagus! Papa pasti suka".

"Magy, sekali lagi Papa bilang: Lain kali! Magy dengar kan Papa bilang Papa sibuk?" dengan agak keras John membentuk anaknya.

Terkaget dan hampir menangis Magy mulai menarik tubuhnya dari sang Ayah, "Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali..."

Tapi Magy mendekati lagi Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, kemudian meletakkan bukunya di pangkuan sang Ayah.

"Kapan saja Papa ada waktu ya Pa... Papa tidak usah baca buat Magy, Papa baca buat Papa sendiri aja ya... Tapi Papa bacanya yang keras ya, Pa... supaya Magy juga bisa ikut dengar...".

John hanya diam dan menoleh sebentar ketika Magy berjalan dengan langkah-langkah kecilnya meninggalkan sang Ayah.

Kejadian 3 minggu lalu itulah yang sekarang berkemelut dalam diri John. Dia teringat Magy yang penuh pengertian mengalah. Magy kecil yang baru berusia 2 tahun meletakkan tangannya yang mungil di atas tangannya: ”... Tapi Papa bacanya yang keras ya, Pa... supaya Magy juga bisa ikut dengar..." Kata-kata Magy itu terus terngiang dalam benak John.

Karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya dari sebuah rak mainan di sudut kamar Magy. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya.
John melupakan pekerjaannya yang dulu amat penting bagi dia. Ia bahkan lupa dengan kemarahan dan kebenciannya pada pemuda ugal-ugalan yang dengan kencang menghantam tubuh putrinya di jalan menuju sekolah.

John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin...

Lakukan hal-hal terindah sebisa mungkin untuk orang-orang yang Anda kasihi dengan sisa waktu yang masih Anda miliki, yang sesungguhnya tidak pernah bisa Anda ketahui seberapa lama lagi....... sebelum segalanya terlambat dan tidak ada lagi yang bisa Anda lakukan untuk menggantikannya.

Selamat Berakhir Pekan dengan KELUARGA TERCINTA... Keluarga Terbaik yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita semua...

(Ary WS)

Kamis, 29 April 2010

BERANIKAH ANDA MEMBAKAR HABIS KESULITAN YANG MENYELIMUTI HARAPAN2 & CITA2 ANDA??


Apakah Anda akan membiarkan Diri Anda Terbungkus Sampah?

Ada orang yang menganggap kesulitan, kesedihan, dan musibah sebagai hukuman, lalu memilih untuk menerima hukuman itu begitu saja. Hanya sebagian yang nekad mengambil resiko melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Boleh juga! Namun, hanya sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk mengalahkan kesulitan itu dan menggapai Keberhasilan.

Mari kita belajar dari kisah berikut ini.

Dalam sebuah turnamen golf, Nero Sang Profesional membuat sebuah pukulan brilian sehingga bolanya jatuh di dekat lapangan hijau. Namun ketika menyusuri fairway menuju bola itu, Nero melihat bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang dibuang sembarangan. Bagaimana dia bisa memukul bola yang berada di dalam kantong dengan baik? Tentu saja mustahil.

Sesuai peraturan, jika Nero keluarkan bola dari sampah itu, ia terkena pukulan hukuman. Namun jika ia pukul bola bersama kantong kertas, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Bisa dipastikan, hampir tidak pernah ada pemain yang mau memukul bola bersama kantong kertas sampah seperti itu karena resikonya memang jauh lebih fatal terhadap perolehan nilai yang disebabkan melencengnya laju bola.

Hal ini sangat lazim dialami para pemain golf yang profesional sekalipun. Kebanyakan pemain pasti memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas dan menerima hukuman, daripada memukul dengan resiko nilai yang lebih buruk. Barulah setelah itu mereka berupaya keras untuk menebus kurangnya point akibat pukulan hukuman tadi.

Bukan pilihan yang sepenuhnya salah: lebih baik menghadapi resiko lebih kecil dan kemudian berusaha keras untuk memperbaiki situasi, daripada nekad menghadapi resiko besar yang lebih fatal.

Namun, ternyata tidak demikian bagi Nero. Ia memutuskan untuk tidak memilih kedua resiko itu. Anda tahu apa yang dilakukan oleh Nero?

Dia keluarkan sebuah korek api dari kantongnya. Dia bungkukkan badan, dan dia nyalakan api untuk membakar kantong kertas itu hingga terbakar habis, Tidak ada peraturan yang melarang hal itu. Nero tinggal memilih tongkat yang tepat, dan mulai membidik sejenak, mengayunkan tongkat… dan… wuussss…! Bola melejit dan jatuh di dekat lobang.

Bravo !!
Nero terbebas dari hukuman dan tetap bisa memukul bola dengan baik tanpa terganggu sampah kantong kertas. Nero pun akhirnya memenangkan tournament itu.

Ketika cita-cita, tujuan, goal-goal, atau harapan-harapan Anda terasa bagaikan terbungkus sampah, bukan berarti Anda kehilangan kesempatan untuk meraihnya, bukan berarti Anda harus menghentikan langkah untuk mencapainya.

Dalam keseharian, membakar sampah yang membungkus bola golf artinya adalah bahwa kita perlu melakukan sesuatu. Kita perlu sebuah Tindakan. Aksi. Kreatif. Sesekali tangan kita mungkin harus kotor atau bahkan tersengat korek api, tetapi ketika kita Fokus pada Goal, kita Fokus pada Tujuan dan Cita-Cita, dan kita Fokus pada Rasa Bahagia yang tiada tara ketika kita mencapainya, maka kesakitan-kesakitan itupun seketika berubah menjadi Cerita-Cerita Indah yang menghiasi Perjalanan kita menuju Keberhasilan dan Kebahagiaan atas Pencapaian Tujuan kita.

(Ary WS)

BELAJAR JADI ENTREPREUNER YG MULIA DARI SEORANG BOCAH PENJUAL KUE



Sebuah Pelajaran Mulia dari Seorang Pahlawan Kecil

Kabarnya, ini adalah sebuah kisah nyata.

Ada seorang Bocah Kecil yang setiap pulang sekolah selalu membantu ibunya berjualan kue hingga menjelang malam. Seperti biasa, siang itu si Bocah menjajakan kuenya di keramaian kota. Dia melihat seorang pemuda sedang makan di sebuah depot. Si Bocah Penjaja Kue ini pun menghampirinya.

“Om, silahkan dipilih kuenya, Om… kue buatan ibu saya enak lho, Om…” katanya menawarkan kue kepada si Pemuda.

“Maaf ya, Dik. Saya sedang makan.” kata si Pemuda menolak dengan ramah.

Si Bocah tidak menyerah, dia tunggu sesaat sampai si Pemuda menyelesaikan makannya. Dia hampiri lagi si Pemuda itu. Dan lagi-lagi si Pemuda menolak dengan ramah, ”Wah... maaf, Dik, saya sudah kenyang. Porsi makannya tadi banyak sih...”

Si Penjual Kue terus memperhatikan si Pemuda sambil berpikir bagaimana caranya menjual kue kepada si Pemuda. Saat si Pemuda meninggalkan depot, dia hampiri sekali lagi dengan berharap siapa tahu Pemuda itu mau membeli kuenya untuk oleh-oleh.

”Om, mau beli kue saya, Om? Bisa untuk oleh-oleh keluarga di rumah...” katanya lagi.

Si Pemuda memang tidak ingin membeli kue, namun dia merasa kasihan kepada si Bocah, dan mungkin juga risih karena terus-terusan dikejar. Dia keluarkan uang yang cukup banyak dari kantongnya.

”Dik, ini uang buat kamu, dan ini sedekah dari saya.” kata si Pemuda menyerahkan uangnya.

”Tapi, Om, uang ini bisa dapat beberapa kue untuk oleh-oleh,” kata si Bocah.

”Ya, tapi saya lagi tidak pingin kue. Jadi, sedekah saya ini kamu terima saja ya...” jawab si Pemuda sedikit memaksa.

Setelah mengucapkan terima kasih, si Bocah pun pergi. Untuk beberapa saat, si Pemuda sempat memperhatikannya. Si Bocah menghampiri seorang pengemis tua, dan kemudian memberikan uang yang diterimanya dari si Pemuda. Tentu saja, si Pemuda merasa aneh, karena dia perhatikan sepertinya tidak ada hubungan apa-apa antara si Bocah dengan si Pengemis. Dia pun menghampiri Bocah itu lagi.

”Dik, maaf ya... kenapa uang yang saya kasih malah kamu kasihkan ke pengemis? Bukannya itu rejeki buat kamu?”

Si Bocah pun tersenyum, ”Maaf, Om. Saya sudah janji sama Ibu kalau saya mau bantu Ibu berjualan kue ini, bukan untuk jadi pengemis. Jadi, saya akan bangga kalau uang yang saya kasih ke Ibu nanti adalah uang hasil kerja keras saya jualan kue, walaupun mungkin tidak seberapa dibandingkan uang mereka yang mengemis. Ibu pasti juga bangga pada saya, karena Ibu tidak mau anak-anaknya jadi pengemis.”

”Wah! Kamu bener-bener luar biasa! Tapi, sebentar, itu kan berarti kamu menolak rejeki yang Tuhan berikan kepadamu melalui tangan saya?” si Pemuda mencoba berargumentasi.

”Tadi waktu Om kasih ke saya, kan saya tidak menolaknya, Om...” si Bocah pun berkilah.

Si Pemuda pun tertawa, tak lagi bisa membantah. Dia terkagum-kagum pada sikap si Penjual Kue yang, menurut usia, masih sangat muda untuk sebuah semangat pantang menyerah serta mempertahankan Kehormatan diri dan keluarganya dengan Bekerja, bukan mengemis.

Suatu pantangan bagi Keluarga Sederhana ini untuk menjadi pengemis. Si Bocah ingin selalu melihat senyum kebanggaan dari Sang Ibu setiap kali dia pulang ke rumah. Dan senyuman yang tulus penuh kasih itu harus dia balas dengan sebuah Perjuangan yang terbaik, apapun hasilnya.

Hanya karena kekagumannya pada sang Bocah, si Pemuda itu akhirnya memborong semua kue yang dijajakan oleh Pahlawan Kecil itu.

”Lho, katanya tadi Om lagi tidak pingin kue...? Kok sekarang malah dibeli semua?” si Bocah yang lugu itu masih bertanya juga sambil memasukkan kue-kuenya ke dalam kantong plastik.

”Kan tadi kamu sendiri yang bilang kuenya untuk oleh-oleh,” kata si Pemuda, ”nanti saya mau berikan kue-kue ini pada anak-anak di sekitar rumah saya, dan saya akan bagikan semangatmu yang pantang menyerah itu kepada mereka melalui kue-kue ini... Semoga lebih banyak lagi anak-anak yang sepertimu di negeri ini...”

Sang Bocah pun mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan si Pemuda dengan wajah ceria, siap menyambut senyuman penuh kasih dan kebanggaan yang akan diberikan oleh Sang Ibu di rumah.

Si Pemuda tersenyum haru bercampur bangga menyaksikan keceriaan Sang Pahlawan itu.

Dari seorang Bocah Kecil yang polos itu dia belajar:

”Apapun hasilnya, memperjuangkan sebuah Kehormatan dan Kemuliaan pasti memberikan Kebanggaan yang tak terbeli dengan materi seberapapun banyaknya. Dan seberapa pun hasilnya, menjalani sebuah pekerjaan mulia jauh lebih terhormat daripada hanya berpangku tangan mengais belas kasihan orang lain, apalagi kalau mencuri dan merampok yang bukan haknya..."

IMPIAN: Sebuah Pilihan - Menjadi Seperti Apa Yang Anda Inginkan



Di sebuah tempat terpencil di Tenessee, USA, seorang bayi perempuan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Anak itu adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara, lahir premature dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet – sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan.

Namun anak ini sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.

Ibunya yang luar biasa selalu mengatakan pada anaknya yang ternyata sangat pandai tersebut bahwa walaupun kakinya harus menggunakan penyangga, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya.

Ibunya mengatakan bahwa untuk itu yang harus dimilikinya adalah keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora.

Lalu pada usia Sembilan tahun, gadis kecil tersebut memutuskan untuk melepaskan penyangga kakinya dan mulai melangkahkan kakinya yang kata dokter tidak akan bisa normal kembali. Dalam empat tahun dia mulai dapat berjalan secara normal, ini sebuah keajaiban bagi dunia medis.

Dikemudian hari, gadis itu memiliki sebuah impian untuk menjadi pelari wanita terhebat di dunia. Pertanyaannya, mungkinkah dengan kaki yang tidak sempurna seperti itu?

Di usia yang ke tiga belas tahun, dia mulai mengikuti lomba lari. Dia menjadi yang terakhir mencapai finish. Dia selalu mengikuti setiap perlombaan lari di SMA dan dalam setiap perlombaan dia selalu menjadi yang terakhir mencapai finish. Semua orang memintanya untuk menyerah saja! Sampai suatu hari, dia tidak menjadi yang paling akhir mencapai finish dan akhirnya tibalah hari dimana dia memenangkan lomba lari. Sejak sat itu Wilma Rudolph selalu memenangkan perlombaan lari yang dia ikuti.

Wilma melanjutkan sekolahnya di Tenessee State University di mana dia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed Temple melihat semangat yang menggelora pada diri Wilma dan dia juga melihat sebuah bakat natural dalam diri Wilma. Dia melatih Wilma sampai Wilma terpilih untuk masuk dalam Tim Olimpiade Amerika.

Dalam sebuah perlombaan lari Wilma harus bertanding melawan Jutta Heine, sorang pelari asal Jerman yang merupakan pelari terhebat saat itu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Jutta, namun dalam nomor lari gawang 100 meter, Wilma Rudolph memenangkan pertandingan. Dia mengalahkan Jutta lagi pada nomor lari 200 meter. Sekarang Wilma memenangkan 2 medali emas.

Akhirnya di nomor lari 400 meter estafet, Wilma bertemu Jutta lagi. Dua pelari pertama dalam team Wilma melakukan estafet tongkat dengan sempurna, namun saat pelari ketiga menyerahkan tongkat pada Wilma, dia menjatuhkannya karena sangat tegang. Wilma melihat Jutta sudah berlari di lintasan mendahuluinya.

Dalam situasi seperti itu sangatlah tidak mungkin untuk mengejar dan mendahului pelari sekeleas Jutta. Namun akhirnya Wilma melakukannya, dia kembali mengalahkan Jutta Heine. Wilma Rudolph berhasil memenangkan 3 Medali Emas Olimpiade!

Wilma bisa saja memilih untuk menyerah sejak awal-awal kekalahannya, atau bahkan sejak awal dia menyadari kekurangannya, tetapi dia memilih yang berbeda.

Dan kita saksikan, Tuhan mengijinkan kita untuk mengubah kondisi apapun yang telah Dia berikan kepada kita sejak lahir kalau kita memiliki IMPIAN yang sangat KUAT disertai Komitmen dan Konsistensi untuk mewujudkannya.

Ayo Berhenti berpangku tangan pada kondisi yang buruk...
kita Bangkit Sekarang Juga dan MERAIH MIMPI...

Anda BISA... Saya BISA... Kita BISA!!

BUTUHKAH SEBUAH ALASAN UNTUK CINTA?


Weekend in Love

WANITA: "Mas, apa yang membuatmu mencintaiku?"

PRIA: "Aku tidak bisa memberitahu alasannya... tapi percayalah, aku benar-benar mencintaimu."

WANITA: "Tuh kan! Kamu sendiri bahkan tidak tahu alasannya ... bagaimana kamu bisa bilang kamu mencintai aku, Mas?"

PRIA: "Aku benar-benar tidak tahu alasannya, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu."

WANITA: "Aku lagi gak nanya soal bukti, Mas. Aku hanya ingin mendengar dengan kata2mu sendiri apa alasannya kamu mencintaiku. Kekasih temanku saja bisa mengatakan padanya mengapa dia mencintainya tetapi kenapa kamu tidak?"

PRIA: "Ok .. ok! Ehm ... aku mencintaimu karena… wajahmu yang cantik, suaramu lembut dan menentramkanku, karena kamu juga penuh perhatian, karena senyummu yg manis itu, dan karena setiap sentuhanmu."

Si WANITA merasa sangat bahagia & tersanjung dengan jawaban Sang Kekasih.

Sayangnya, beberapa hari kemudian, si WANITA mengalami sebuah kecelakaan, banyak bagian tubuhnya yang rusak. Dia juga mengalami koma dalam kondisi yg kritis. Si PRIA kemudian meletakkan sebuah surat di sisinya, dan berikut adalah isi suratnya:

"Sayangku, karena wajah cantik dan suara manismulah, aku mencintaimu ... Sekarang apakah wajahmu masih cantik dengan luka2mu itu? Apakah suaramu yg lembut itu masih bisa kudengar?
Tidak! Oleh karena itu aku tidak bisa mencintaimu.
Karena perhatian dan kepedulian kamu, aku suka padamu. Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya padaku, maka aku tidak bisa mencintai kamu.
Karena senyumanmu dan karena sentuhanmu, aku mencintaimu. Sekarang bisakah kamu tersenyum? Bisakah kamu bergerak untuk menyentuhku?
Tidak, oleh karena itu aku tidak bisa mencintaimu.
Jika Cinta memang harus butuh alasan, maka tidak ada alasan lagi bagiku untuk mencintaimu. Apakah cinta butuh alasan? TIDAK! Oleh karena itu, aku masih mencintaimu dan cintaku tidak memerlukan semua alasan itu. Aku tetap mencintaimu…"

Seingkali, Hal-Hal Terindah dalam Kehidupan kita tidak bisa disaksikan dengan mata , tidak bisa tersentuh oleh indera raga, dan tidak pula dibuktikan… hanya dapat dirasakan dalam hati. Dan hati-lah yang bisa menakarnya.

APAKAH KITA MAU TERUS-MENERUS MEMBAWA KENTANG BUSUK KEMANA-MANA?


Seorang guru meminta murid-muridnya membawa satu kantung ke sekolah. Lalu ia meminta setiap anak memasukkan beberapa potong kentang ke dalamnya dengan ketentuan: Satu potong kentang harus mewakili satu orang yang mereka benci, atau satu orang yang belum mereka maafkan, atau satu hal lain yg masih membuat mereka kesal.

Mereka diminta untuk menuliskan nama orang2 itu di setiap potongan kentang yg mewakilinya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, tapi banyak juga yang memiliki kantong yang berat, karena banyaknya potongan kentang yang mereka masukkan ke dalamnya.

Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Bahkan di rumah pun, mereka harus membawanya ketika makan, tidur, mandi, dan aktivitas apapun. Sang Guru berkorrdinasi dengan para orang tua untuk ikut mengawasi hal ini.

Lama-kelamaan, tentu saja, kentang-kentang mulai membusuk, ada yang mulai mengeluarkan bau tak sedap. Hampir semua anak mengeluh, terutama mereka yang memiliki banyak kentang di dalm kantongnya.

Akhirnya, satu minggu berlalu. Semua anak kembali bertemu dengan Sang Guru.

“Bagaimana Anak-Anak…? Siapa yang masih suka membawa kentang2 itu lebih lama lagi…?” Tanya Sang Guru, yang tentu saja disambut dengan “huuuu…” dan berbagai nada protes dari anak-anak.

“Anak-anakku,” kata Sang Guru, “kalian sudah merasakan, bahwa membawa beban
itu sesungguhnya sangat tidak menyenangkan, apalagi ditambah dengan bau yang makin membusuk.

“Ketika kalian membawa kebencian kepada seseorang atau kalian tidak sudi memaafkan mereka, kalian bawa “dendam” itu sepanjang hidup kalian sebelum kalian memutuskan untuk memaafkannya. Amarah dalam hati kalian itu akan semakin membusuk dan menghantui hidup kalian…”

“Padahal, Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada membawa semua beban itu kemana saja. Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan
dendam yang kita genggam terus menerus.”

“Getir, berat, dan aroma busuk, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.”

”Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian maaf itu sesungguhnya adalah hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah KEBEBASAN.”

”Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedengkian hati yang bias mematikan Kebaikan-Kebaikan Hidup yang sesungguhnya bias kita dapatkan.”

Anak-anakpun beramai-ramai membuang kentang2nya, lalu mereka saling bersalaman, saling memaafkan, saling berpelukan, dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Guru.

Apakah kita siap membuang kentang-kentang busuk dalam hati kita…??
Tentu…

Bukankah… KITA BISA !!!

"3 X 8 = 23" MENYELAMATKAN 3 NYAWA



Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.

Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3 X 8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi."

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan."

Yan Hui: "Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?"

Pembeli kain: "Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"

Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu."

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius.

Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia."

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.

Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.

Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui menjawab, "Baiklah," lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.

Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang?

Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh.

Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"

Confucius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Jawab Confucius :

"Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."

"3 X 8 = 23" telah MENYELAMATKAN 3 NYAWA:
Nyawa Pembeli Kain, karena sudah dibenarkan oleh Confucius; kemudian Nyawa Yan Hui, karena dinasihati untuk tidak berteduh di bawah pohon; dan terakhir Nyawa Adik Ipar Yan Hui, karena Yan Hui ingkar membunuhnya

Selain mendengarkan, kita juga dianjurkan untuk menelaah secara mendalam MENGAPA seseorang mengatakan "demikian" dan "demikian"...

KETEGUHAN SANG JUARA: MA LI DAN ZHAI XIAO WEI

- Kisah Ma Li -

Ma Li adalah seorang balerina profesional, yang sudah membangun karirnya sejak masa kanak-kanak. Ia berasal dari Provinsi Henan, China. Sayangnya, ketika berusia 19 tahun (tahun 1996), ia mengalami kecelakaan mobil. Akibatnya, lengan kanannya harus diamputasi. Kemudian, kekasihnya pergi meninggalkannya. Betapa bingung dan kecewanya Ma Li. Ia sempat mengurung diri di rumahnya selama berbulan-bulan. Namun, dukungan orangtua menguatkannya. Perlahan tapi pasti, ia melanjutkan hidupnya. Ia segera belajar melakukan, mengurus diri dan rumahnya dengan satu lengan. Beberapa bulan kemudian, dia sudah membuka usaha dengan mendirikan satu buah toko buku kecil.

Pada tahun 2001, Ma Li kembali ke dunia tari yang dicintainya. Ini hal yang sulit, karena dengan hanya satu lengan, ia kurang bisa menjaga keseimbangan tubuhnya - khususnya ketika melakukan gerakan berputar. Namun Ma Li tidak putus asa. Ia terus berusaha, hingga akhirnya ia bisa menyabet medali emas pada kompetisi tari khusus untuk orang-orang yang memiliki kekurangan pada fisiknya. Menurut Ma Li, di kompetisi itu, selain mendapatkan prestasi, ia juga mendapatkan dukungan dari orang-orang yang senasib dengannya. Dari situlah, ia mendapatkan dorongan motivasi dan rasa percaya diri yang lebih besar.

Pada 2002, seorang laki-laki bernama Tao Li jatuh cinta pada Ma Li. Tapi, Ma Li meninggalkannya, karena khawatir kejadian masa lalu yang menyakitkan terulang kembali. Tao Li bukan pemuda yang mudah putus asa. Ia mencari Ma Li hingga ke Beijing, tempatnya meniti karir sebagai penari. Ketika bertemu kembali, pasangan ini tidak terpisahkan lagi. Ma Li dan Tao Li sempat jatuh bangkrut saat virus SARS menyerang China (November 2002 hingga Juli 2003). Sebab, pada masa itu, semua gedung teater/seni ditutup. Namun mereka tetap berjuang dan bangkit kembali. Setelah serangan virus SARS mereda, Tao Li mendapat izin resmi untuk menjadi agen Ma Li.

Sambil berusaha mengembangkan diri dan usaha, kedua insan ini bekerja sambilan sebagai pemeran figuran di berbagai lokasi syuting drama. Nah, pada suatu malam bersalju, keduanya pulang larut malam dan harus menghabiskan banyak waktu, untuk menunggu bus yang datang pada pagi hari. Agar tidak terlalu kedinginan, keduanya menari. Pada saat inilah, Tao Li mendapatkan ide untuk menciptakan tarian yang indah dan unik, tarian yang khas Ma Li. Ma Li setuju, dan mulai saat itu mereka mencari seorang penari pria (untuk menjadi pasangan menari Ma li) dan koreografer.

- Kisah Zhai Xiao Wei -

Pada umur 4 tahun, Zhai Xiao Wei sedang asyik bermain. Ia lalu mencoba memanjat sebuah traktor, lalu... terjatuh. Karena cedera berat, kaki kirinya harus diamputasi. Beberapa saat sebelum diamputasi, ayah Xiao Wei kecil bertanya pada putranya, "Apakah kamu takut?". "Tidak", jawab Xiao Wei. Ia kurang memahami arti amputasi. "Kamu akan banyak mengalami tantangan dan kesulitan", kata sang ayah. "Apakah itu tantangan dan kesulitan? Apakah rasanya enak?", tanya Xiao Wei. Ayahnya mulai menangis. "Ya..., rasanya seperti permen kesukaanmu", katanya. "Kamu hanya perlu memakannya satu persatu." Setelah itu, sang ayah berlari keluar ruangan. Berkat dukungan orangtua dan lingkungannya, Xiao Wei tumbuh menjadi anak yang sangat optimis, periang dan bersemangat. Kemudian, ia menjadi seorang atlet. Xiao Wei aktif di cabang olahraga lompat tinggi, lompat jauh, renang, menyelam dan balap sepeda.


- Kisah Pertemuan Ma Li dan Zhai Xiao Wei -

Pertemuan itu terjadi pada bulan September 2005. Saat itu, Xiao Wei (21 tahun) sedang berlatih, agar bisa tampil di kejuaraan balap sepeda nasional. Ma Li melihatnya dan merasa dialah partner menari yang cocok untuknya. Ma Li berlari ke arah Xia Wei dan mengajukan berbagai pertanyaan. "Apakah kamu suka menari?" Itulah pertanyaan pertama Ma Li. Xiao Wei terkejut sekali. Bagaimana mungkin dia, yang hanya punya satu kaki, melakukan kegiatan seperti menari? Selain itu, Xiao Wei mengira, bahwa Ma Li adalah perempuan bertubuh normal. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat saat itu Ma Li mengenakan lengan palsu dan pakaian khusus untuk menutupi cacat tubuhnya. "Siapa nama kamu? Berapa nomor telepon kamu? Tinggal di mana?", begitulah selanjutnya pertanyaan-pertanyaan Ma Li. Xiao Wei diam saja - tidak menjawab sepatah kata pun. Maka, Ma Li memberikan selembar tiket pertunjukan tari kepada pria itu. Tawaran itu diterima.

Dua hari kemudian, Xiao Wei berdiri terpesona di gedung pertunjukan tari. Ia terkesan sekali dengan tarian yang dipersembahkan Ma Li. Akhirnya, ia setuju untuk menari balet bersama. Untuk itu, ia rela pindah ke Beijing untuk berlatih bersama Ma Li. Selanjutnya, mereka latihan tiap hari, dari jam 8 pagi hingga 11 malam. Mulai dari melatih mimik wajah di depan cermin hingga gerakan-gerakan tari. Keduanya harus melalui masa-masa sulit, karena sebelumnya Xiao Wei tidak pernah menari. Sementara Ma Li sendiri, adalah seorang penari yang perfeksionis. Tahukah Anda, untuk mendapatkan gerakan "jatuh" yang tepat, Ma Li sampai rela dijatuhkan lebih dari 1.000 kali. Pada hari pertama berlatih "jatuh", gerakan benar yang pertama baru bisa dilakukan pada pukul 8 malam.

Apa yang terjadi berikutnya, Anda tentu sudah mengetahuinya! Pada April 2007, mereka menyabet medali perak pada lomba tari "4th CCTV National Dance Competition" (saksikan videonya di AW Inspirational Video). Pasangan Ma Li - Zhai Xiao Wei menjadi terkenal. Tarian "Hand in Hand" menjadi inspirasi bagi banyak orang. Apabila mau belajar dan berusaha mengatasi kekurangan yang ada pada diri kita dan dengan tekun mengembangkan potensi diri, kita semua pasti mampu menjadi pemenang yang sesungguhnya!